JAWA BARAT

Pilih lokasi atau klik peta di bawah ini untuk mendapatkan informasi masing-masing daerah
  • Konsep ATLAS Sumberdaya Pesisir dan Laut Jawa Barat

     
     

    Wilayah Pesisir dan lautan di Jawa Barat memiliki sumberdaya alam yang cukup melimpah, namun demikian terdapat berbagai permasalahan yang perlu ditangani secara terpadu. Guna mencapai pengelolaan secara terpadu segenap pengguna (stakeholder), diperlukan data dasar yang akurat dan selalu aktual (up to date), sehingga para pengambil keputusan memiliki landasan yang kuat dalam menetapkan kebijakan-kebijakan pengelolaan di wilayah pesisir yang terintergrasi dengan baik, baik bagi segi sumberdaya alamnya maupun bagi kepentingan pembangunan ekonomi masyarakatnya.

    Jawa Barat telah menetapkan bahwa salah satu core business bisnis utama Jawa Barat perlu dikembangkan adalah bisnis kelautan. Wilayah pesisir utara Jawa Barat merupakan pusat aktivitas perikanan baik dari tangkapan maupun tambak. Cirebon misalnya, salah satu daerah di utara yang sangat terkenal dengan produk udangnya begitu pula budidaya kerang hijau di Kabupaten Bekasi, apalagi ada rencana relokasi petani kerang hijau dari Teluk Jakarta. Oleh karena itu perhatian terhadap pesisir utara dalam hal perikanan lautnya merupakan hal yang wajar. Keberhasilan pengembangan bisnis kelautan salah satunya ditentukan oleh ketersediaan informasi yang akurat dan selalu aktual.

    Informasi yang terintegrasi tentang pengelolaan wilayah pesisir sudah sangat mendesak dan perlu segera disusun agar semua informasi, data maupun model-model pengelolaan pesisir untuk membantu menyusun kebijakan ataupun perencanaan pengelolaan pesisir menjadi terintegrasi sehingga keluaran yang dihasilkan dari kebijakan atau perencanaan yang sudah disusun menjadi lebih efektif dan tepat sasaran. Informasi yang terintegrasi untuk pengelolaan pesisir dapat berupa sebuah atlas sumberdaya wilayah pesisir.

    Ketersediaan data yang akurat dan aktual merupakan salah satu komponen dasar dalam program pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. Data-data tersebut diantaranya adalah: potensi sumberdaya, penggunaan lahan pesisir, konflik pengelolaan, kapasitas kelembagaan, monitoring parameter biofisik dan sosial ekonomi, observasi indikator keberhasilan program dan umpan balik pada proses pengelolaan untuk membentuk pola pengelolaan baru yang lebih baik. Semua data tersebut dapat disajikan secara komprehensip dalam sebuah atlas sumberdaya wilayah pesisir.

    Bentuk atlas sumberdaya disajikan secara menarik dengan memanfaatkan teknologi komputer berbasis internet, dapat diakses oleh masyarakat luas, sehingga meningkatkan partisipasi dalam pembangunan pesisir pantura berkelanjutan. Data yang terkumpul disajikan dalam data base. Peta yang disusun menggunakan teknologi sistem informasi geografis, sehingga proses pengambilan keputusan dapat mengacu pada data spasial yang akurat seperti untuk aplikasi tata ruang wilayah pesisir dan lautan, program penanggulangan pencemaran, pemanfaatan lestari sumberdaya alam hayati dan sebagainya. Untuk mencapai sasaran pembaca yang beragam, maka tampilan atlas tidak saja disusun secara menarik, tetapi juga bahasa yang digunakan mudah difahami, informatif dan dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat akan kelestarian sumberdaya pesisir dan lautan.

    Untuk menjamin bahwa data yang tersaji dalam atlas bersifat objektif dan dapat dimanfaatkan oleh semua pihak terkait (stakeholder), maka dalam proses penyusunannya diperlukan partisipasi aktif masyarakat dalam proses penyediaan informasi (data sekunder), pengumpulan dan pemrosesan data primer serta verifikasi informasi. Dengan demikian atlas yang disusun akan merupakan milik bersama para stakeholder dan selalu berupaya untuk menyajikan data yang akurat dan aktual.

     
  • LETAK GEOGRAFIS PESISIR UTARA

    2.1 Jawa Barat dan Wilayah Pesisir Jawa Barat Bagian Utara

    Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak pada 5o50’–7o50’ Lintang Selatan dan 104o48’–108o48’ Bujur Timur.  Luas Propinsi Jawa Barat meliputi areal dataran sekitar 37.095,28 km2 dengan panjang garis pantai mencapai 755,83 km  Secara administratif Propinsi Jawa Barat mempunyai batas wilayah sebagai berikut:

    Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa dan Propinsi DKI Jakarta

    Sebelah Timur berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah

    Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia

    Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Banten

    Propinsi Jawa Barat dibagi menjadi 9 wilayah kota, 17 wilayah kabupaten, 592 wilayah kecamatan, 1.798 wilayah perkotaan dan 4.083 wilayah perdesaan. Wilayah kota diantaranya adalah Kota Bogor, Sukabumi, Bandung, Cirebon, Bekasi, Depok, Tasikmalaya, Cimahi dan Banjar. Sedangkan wilayah kabupaten adalah Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Kuningan, Cirebon, Majalengka, Sumedang, Indramayu, Subang, Purwakarta, Karawang, dan Bekasi. Jumlah kabupaten pada tahun 2007 bertambah dengan dimekarkannya wilayah Kabupaten Bandung menjadi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

    Secara topografi, wilayah Propinsi Jawa Barat dibagi menjadi tiga dataran, yaitu dataran rendah di wilayah bagian utara Jawa Barat, dataran tinggi di wilayah bagian tengah Jawa Barat, sedangkan berbukit-bukit dengan sedikit pantai terdapat di wilayah bagian selatan Jawa Barat. Kondisi in sangat menguntungkan bagi Propinsi Jawa Barat, karena merupakan daerah yang cukup strategi bagi pengembangan aspek komunikasi dan perhubungan.

    Sementara pesisir dan laut wilayah utara Jawa Barat membentang dari Kabupaten Bekasi di barat sampai Kabupaten Cirebon di timur dengan luas wilayah administratif kabupaten/kota mencapai 8.570,28 km 2 dengan panjang garis pantai kurang lebih 354,2 km. Panjang pantai masing-masing Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut : Kabupaten Bekasi 74 km, Karawang 57 km, Subang 48,20 km, Indramayu 114 km, Kabupaten Cirebon 54 km dan Kota Cirebon 7 km.

    Secara geografis berdasarkan batas wilayah kabupaten/kota, pesisir dan laut wilayah utara Jawa Barat terletak pada 106 ° 48' - 108 ° 48' Bujur Timur dan 6 ° 10' - 7 ° Lintang Selatan dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

    Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa dan Propinsi DKI Jakarta

    Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor, Cianjur, Bandung, Majalengka, Sumedang, dan Kuningan

    Sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Banten

    Sebelah barat berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah

    2.2 Kabupaten Bekasi

    Kabupaten Bekasi secara geografis terletak pada 106 ° 48' BT-106 ° 27' BT dan 6 ° 10' LS-6 ° 30' LS. Tofografinya terbagi atas dua bagian, yaitu dataran rendah yang meliputi sebagian wilayah utara dan dataran bergelombang di wilayah bagian selatan. Ketinggian lokasi antara 6-115 meter dan kemiringan 0-25%. Secara administratif Kabupaten Bekasi berbatasan dengan :

    Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa,

    Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor,

    Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Karawang,

    Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Bekasi dan Kota Jakarta Utara.

    Luas wilayah Kabupaten Bekasi adalah 1.273,88 km 2. Secara administratif kabupaten ini terbagi atas 23 kecamatan dan 187 desa. Dari kecamatan yang ada, terdapat 3 (tiga) kecamatan yang merupakan kecamatan pesisir, yaitu Kecamatan Muaragembong, Babelan dan Tarumajaya dengan jumlah desa total di ketiga kecamatan mencapai 23 desa. Luas wilayah kecamatan pesisir Bekasi adalah 258.32 km 2 atau 20,27 % dari total luas Kabupaten Bekasi. Secara rinci luas kecamatan pesisir di Kabupaten Bekasi dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini.


    Tabel 2.1. Luas Wilayah dan Banyaknya Desa/Kelurahan di Kecamatan Pesisir Kabupaten Bekasi Tahun 2005

    NoKecamatanLuas DesaJumlah Desa/Kelurahan
    Ha%
    1 Babelan 6.360 5,60 9
    2 Tarumajaya 5.463 4,51 8
    3 Muara Gembong 14.009 8,76 6
      Jumlah 25.832 20,27 23

    Sumber: Profil Daerah Provinsi Jawa Barat, 2006

    Desa dengan status desa pesisir di Kabupaten Bekasi dapat dilihat pada Tabel 2.2.


    Tabel 2.2. Kecamatan dan Desa Pesisir di Kabupaten Bekasi Tahun 2005

    KecamatanDesa Pesisir
    BABELAN HURIPJAYA
    TARUMAJAYA SEGARAMAKMUR
      SEGARAJAYA
      SAMUDRAJAYA
    MUARA GEMBONG PANTAI HARAPANJAYA
      PANTAIMEKAR
      PANTAI SEDERHANA
      PANTAIBAKTI
      PANTAIBAHAGIA

    Sumber: Podes 2006


    2.3 Kabupaten Karawang

    Secara geografis Kabupaten Karawang terletak antara 107 ° 02'-107 ° 40' BT dan 5 ° 56'-6 ° 34' LS. Topografi Kabupaten Karawang sebagian besar adalah berbentuk dataran yang relatif rata dengan variasi antara 0-5 m di atas permukaan laut (DPL). Hanya sebagian kecil wilayah yang bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian antara 0-1.200 m DPL. Secara administratif Kabupaten Karawang mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:

    Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa;

    Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Subang;

    Sebelah Tenggara berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta;

    Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Cianjur;

    Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bekasi;

    Kabupaten Karawang memiliki luas wilayah 1.753,27 km 2 atau 3,73 % dari luas Propinsi Jawa Barat. Luas wilayah ini dibagi menjadi 25 kecamatan, 297 desa dan 12 kelurahan. Dari jumlah kecamatan yang ada, terdapat 9 (sembilan) kecamatan yang merupakan kecamatan pesisir, yaitu terdiri dari Kecamatan Cilamaya Wetan, Cilamaya Kulon, Tempuran, Pedes, Cilebar, Cibuaya, Tirtajaya, Batujaya, dan Kecamatan Pakisjaya. Luas kecamatan pesisir Kabupaten Karawang adalah 676,2 km 2 atau 3,86 % dari luas total Kabupaten Karawang. Desa yang tergolong desa pesisir diidentifikasi terdapat 15 desa seperti terlihat pada Tabel 2.3 .

    Tabel 2.3. Kecamatan dan Desa Pesisir di Kabupaten Karawang Tahun 2005

    Kecamatan PesisirDesa PesisirLuas (Km 2)
    CILAMAYA WETAN SUKAKERTA 7,32
      MUARABARU 7,38
      MUARA 15,69
    CILAMAYA KULON SUKAJAYA 6,20
      PASIRJAYA 8,62
    TEMPURAN CIPARAGEJAYA 4,80
    PEDES SUNGAIBUNTU 9,96
    CILEBAR MEKARPOHACI 1,72
      PUSAKAJAYA UTARA 8,66
    CIBUAYA CEMARAJAYA 10,31
      SEDARI 25,18
    TIRTAJAYA TAMBAKSUMUR 17,04
      TAMBAKSARI 24,75
    BATUJAYA SEGARJAYA 16,26
    PAKISJAYA TELUKJAYA 7,56
      Jumlah 171,45

    Sumber: Podes, 2006 dan Kabupaten Karawang Dalam Angka, 2005


    2.4 Kabupaten Subang

    Kabupaten Subang secara geografis terletak di bagian utara Propinsi Jawa Barat yaitu antara 107 ° 31'-107 ° 54' BT dan 6 ° 11'-6 ° 49' LS. Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut :

    Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung

    Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta dan Karawang

    Sebelah Utara, berbatasan dengan Laut Jawa

    Sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Indramayu dan Sumedang.

    Luas wilayah Kabupaten Subang adalah 205.176,95 hektar (6,34 % dari luas total Jawa Barat) dengan ketinggian antara 0-1500 m dpl. Dilihat dari segi topografinya dapat dibedakan menjadi 3 zone daerah yaitu : (1) daerah pegunungan dengan ketinggian 500-1500 m dpl dengan luas 41.035,09 hektar (20 %), (2) daerah bergelombang/berbukit dengan ketinggian 50-500 m dpl dengan luas 71.502,16 hektar (35,85 %), (3) daerah dataran rendah dengan ketinggian 0-50 m dpl dengan luas 92.939,7 hektar (45,15 %). Sekitar 80,8 % wilayah Kabupaten Subang mempunyai kemiringan 0-17 ° , sedangkan sisanya memiliki kemiringan di atas 18 ° .

    Secara administrasi Kabupaten Subang terdiri dari 22 Kecamatan dengan jumlah desa 244 desa dan 8 kelurahan. Dari jumlah kecamatan yang ada terdapat 4 (empat) kecamatan yang merupakan kecamatan pesisir, yaitu Kecamatan Blanakan, Ciasem, Legon Kulon dan Kecamatan Pusakanagara. Luas wilayah kecamatan pesisir Kabupaten Subang adalah 333,57 km 2 atau 16 % dari luas seluruh kabupaten. Desa-desa yang tergolong desa pesisir terdapat 11 desa ( Tabel 2.4 ).

    Tabel 2.4. Kecamatan dan Desa Pesisir di Kabupaten Subang Tahun 2005

    KecamatanDesa Pesisir
    CIASEM MANDALAWANGI
    PUSAKANAGARA PATIMBAN
    LEGONKULON ANGGASARI
      MAYANGAN
      LEGONWETAN
    BLANAKAN RAWAMENENG
      JAYAMUKTI
      BLANAKAN
      LANGENSARI
      MUARA
      TANJUNGTIGA

    Sumber: Podes 2006


    2.5 Kabupaten Indramayu

    Kabupaten Indramayu secara geografis berada pada 107 ° 52'-108 ° 36' BT dan 6 ° 15'-6 ° 40' LS. Berdasarkan tofografinya sebagian besar merupakan dataran atau daerah landai dengan kemiringan tanahmya rata-rata 0 - 2 %. B atas administratif Kabupaten Indramayu adalah :

    Sebelah Utara, berbatasan dengan Laut Jawa

    Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Majalengka, Sumedang dan Cirebon

    Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Subang

    Sebelah Timur, berbatasan dengan Laut Jawa dan Kabupaten Cirebon

    Luas total Kabupaten Indramayu yang tercatat adalah seluas 204.011 ha. Luas ini terbagi menjadi 31 kecamatan dan 310 desa. Dari kecamatan yang ada terdapat 11 kecamatan yang merupakan kecamatan pesisir, yaitu Kecamatan Krangkeng, Karangampel, Juntinyuat, Balongan, Indramayu, Sindang, Cantigi, Arahan, Losarang, Kandanghaur, dan Sukra. Luas seluruh kecamatan pesisir Kabupaten Indramayu adalah 68.703 km 2 atau 35 % luas kabupaten dengan garis pantai mencapai 114,1 km dan 37 desa pesisir.

    Tabel 2.5. Kecamatan dan Desa Pesisir di Kabupaten Indramayu Tahun 2005

    KecamatanDesa Pesisir
    KRANGKENG LUWUNGGESIK
      KALIANYAR
      KRANGKENG
      TANJAKAN
    KARANGAMPEL BENDA
    JUNTINYUAT DADAP
      JUNTINYUAT
      JUNTIKEDOKAN
      LOMBANG
      LIMBANGAN
      MAJAKERTA
    BALONGAN TEGALSEMBADRA
      TEGALURUNG
      BALONGAN
    INDRAMAYU SINGARAJA
      SINGAJAYA
      KARANGSONG
      PABEANUDIK
      BRONDONG
      PABEANILIR
    SINDANG KARANGANYAR
      TOTORAN
    CANTIGI CANGKRING
      LAMARANTARUNG
    ARAHAN PRANGGONG
    LOSARANG CEMARA
    KANDANGHAUR PAREAN GIRANG
      BULAK
      ILIR
      ERETAN WETAN
      ERETAN KULON
    SUKRA UJUNGGEBANG
      TEGALTAMAN
      SUMURADEM
      MEKARSARI
      PATROLLOR
      SUKAHAJI

    Sumber: Podes 2006


    2.6 Kabupaten Cirebon

    Secara geografis Kabupaten Cirebon terletak pada 108 ° 40'-108 ° 48' BT dan 6 ° 30'-7 ° LS. Berdasarkan topografi ketinggian tanahnya berkisar diantara 0-130 m di atas permukaan laut (dpl) dan dibedakan menjadi dua bagian, pertama daerah dataran rendah umumnya terletak di sepanjang pantai utara yaitu Kecamatan Gegesik, Kapetakan, Arjawinangun, Panguragan, Klangenan, Cirebon Utara, Cirebon Barat, Weru, Astanajapura, Pangenan, Karangsembung, Waled, Ciledug, Losari, Babakab, Gebang, Palimanan, Plumbon, Depok dan Pabedilan. Sebagian kecamatan lagi termasuk pada daerah dataran sedang dan tinggi.

    Kabupaten Cirebon dengan luas 990.36 km 2 merupakan bagian dari wilayah Propinsi Jawa Barat yang terletak di bagian timur yang sekaligus merupakan batas dan pintu gerbang antara Propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kabupaten Cirebon memiliki batas-batas administrasi sebagai berikut :

    Sebelah Utara, berbatasan dengan Kota Cirebon, dan Laut Jawa

    Sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Brebes Propinsi Jawa Tengah

    Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Kuningan

    Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Indramayu.

    Kabupaten Cirebon terdiri dari 31 kecamatan dan 424 desa. Dari 23 kecamatan yang ada terdapat 7 kecamatan yang merupakan kecamatan pesisir. Kecamatan pesisir tersebut adalah Kecamatan Losari, Gebang, Astanajapura, Pangenan, Mundu, Cirebon Utara, dan Kapetakan. Luas seluruh kecamatan pesisir adalah 310,21 km 2 atau 31,32 % dari luas keseluruhan wilayah dengan jumlah desa pesisir ada sebanyak 35 desa pesisir (Tabel 2.6).

    Tabel 2.6. Kecamatan dan Desa Pesisir di Kabupaten Cirebon Tahun 2005

    Kecamatan PesisirDesa Pesisir
    LOSARI KALIRAHAYU
      AMBULU
      TAWANGSARI
    GEBANG KALIPASUNG
      GEBANG KULON
      GEBANGILIR
      GEBANGMEKAR
      PELAYANGAN
    ASTANAJAPURA KANCI KULON
      KANCI
      ASTANAJAPURA
      JAPURA KIDUL
    PANGENAN PANGENAN
      BENDUNGAN
      RAWAURIP
      PANGARENGAN
    MUNDU WARUDUWUR
      C I T E M U
      BANDENGAN
      MUNDUPESISIR
    CIREBON UTARA PASINDANGAN
      JADIMULYA
      KLAYAN
      KALISAPU
      GROGOL
      MERTASINGA
    KAPETAKAN KERATON
      MUARA
      KARANGREJA
      SURANENGGALA LOR
      BUNGKO
      KERTASURA
      PEGAGAN KIDUL
      PEGAGAN LOR
      BUNGKO LOR

    Sumber: Podes 2006


    2.7 Kota Cirebon

    Kota Cirebon secara geografis terletak pada 108 ° 34'57" BT dan 6 ° 43'56" LS dengan luas 37,85 km 2 dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

    Sebelah Utara, berbatasan dengan Sungai Kedungpane Kecamatan Cirebon Barat Kabupaten Cirebon dan Laut Jawa

    Sebelah Timur, berbatasan dengan Laut Jawa

    Sebelah Selatan, berbatasan dengan Sungai Kalijaga Kecamatan Mundu dan Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon

    Sebelah Barat, berbatasan dengan Banjir Kanal Kecamatan Beber, Cirebon Selatan dan Cirebon Barat Kabupaten Cirebon.

    Kota Cirebon secara administrasi terdiri atas 5 kecamatan dan 22 kelurahan. Kota Cirebon memanjang dari barat ke timur 8 km, utara-selatan 11 km dengan ketinggian dari permukaan laut 5 meter. Dari kecamatan yang ada, maka 2 kecamatan diantaranya merupakan kecamatan pesisir, yaitu Kecamatan Lemahwungkuk dan Kejaksan dengan jumlah desa pesisir ada sebanyak 8 desa (Tabel 2.7)

    Tabel 2.7. Kecamatan dan Desa Pesisir di Kota Cirebon Tahun 2005

    Kecamatan PesisirDesa Pesisir
    LEMAHWUNGKUK PEGAMBIRAN
      KESEPUHAN
      LEMAHWUNGKUK
      PANJUNAN
    KEJAKSAN KEJAKSAN
      KEBONBARU
      KESENDEN

    Sumber: Podes 2006

    Secara spasial, wilayah administrasi pantai utara Jawa Barat dapat dilihat pada Peta 1 Administrasi Wilayah Pesisir Pantura Jawa Barat

     
  • GEOMORFOLOGI LINGKUNGAN PESISIR BAGIAN UTARA

    3.1 Geomorfologi

    Secara umum morfologi topografi pantai utara Jawa Barat merupakan suatu daerah dataran dengan lebar dataran yang bervariasi. Dataran sempit dibagian timur (sekitar Kota Cirebon) dan bagian barat, dan meluas pada bagian tengah. Pada dataran yang lebar banyak dijumpai sungai-sungai yang mengalir dan bermuara dibagian tersebut, diantaranya Sungai Cimanuk, S. Cipunagara, S. Citarum, dan S. Bekasi. Berdasarkan proses pembentukannya dataran yang ada dapat dibedakan menjadi : dataran limpah banjir, kipas aluvial, endapan rawa, endapan laut dan dataran pantai-pematang pantai. Secara rinci endapan yang terdapat di pantai utara Jawa Barat disusun oleh : (Badan Geologi-DESDM, 2000)

    Endapan Kipas Aluvial

    Endapan ini umumnya terbentuk dari hasil vulkanik terdiri dari lempung, pasir campur kerikil, daya dukung tinggi, nilai keterusan terhadap air kecil sampai sedang.

    Endapan Limpah Banjir

    Endapan ini umumnya disusun oleh lempung, lanau, kadang-kadang pasir halus, agak plastik sampai plastik, keras dalam keadaan kering, lunak dalam keadaan basah, daya dukung terhadap pantai rendah sampai sedang, keterusan terhadap sumber air kecil. Di atas endapan ini umumnya dimanfaatkan masyarakat sebagai daerah pertanian.

    Endapan Sungai

    Endapan ini disusun oleh pasir sampai kerikil, lepas daya dukung terhadap pondasi sedang sampai besar. Permeabilitas besar, dapat bertindak sebagai akuifer, diatas endapan ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai daerah pemukiman, hal ini bisa dimaklumi karena kemudahan untuk memperoleh air.

    Endapan Rawa dan Rawa Bakau

    Endapan ini disusun oleh lempung, lanau, lempung organik, pasiran, plastisitas sedang, sifat rekah kerutnya tinggi, daya dukung terhadap pondasi sangat kecil, nilai keterusan terhadap air sangat kecil. Di atas lahan ini banyak dipergunakan penduduk sebagai lahan tambak.

    Endapan Pantai dan Pematang Pantai

    Endapan ini disusun oleh pasir berukuran halus sampai kasar, kadang-kadang mengandung lanauan lempung, daya dukung pondasi kecil sampai sedang, nilai keterusan terhadap air sedang sampai besar.

    Di atas endapan ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan pemukiman, karena letaknya relatif lebih tinggi dari daerah sekitarnya, dan kemudahan untuk memperoleh air.

    Endapan Laut

    Endapan laut terbentuk dari lempung abu-abu sampai biru, lunak, daya dukung terhadap pondasi kecil, keterusan terhadap air kecil, biasanya endapan laut ini terletak dibawah endapan-endapan lain yang telah dijelaskan diatas.

    3.2 Litologi

    Daerah pesisir Jawa Barat Bagian Utara dan sekitarnya urutan stratigrafinya dari tua ke muda (P3G, 1992), adalah sebagai berikut :

    Batupasir Tufaan dan Konglomerat (Qav), terdiri atas konglomerat, batupasir konglomeratan, batupasir tufaan dan tuf. Konglomerat, berwarna abu-abu kekuningan, lepas, perlapisan kurang jelas, banyak dijumpai lapisan kurang jelas, banyak dijumpai lapisan silang-siur, komponen sebagian besar bergaris tengah 5 cm, terdiri dari andesit dan batuapung makin ke selatan komponen semakin besar dan menyudut; Batupasir dan tuf umumnya berwarna kemerahan, pemilahan jelek, merupakan sisipan dalam konglomerat, komponen batupasir terdiri dari pecahan batuan beku andesit, batuapung dan kuarsa, di beberapa tempat terdapat struktur sedimen silang-siur.

    Endapan Delta (Qad), satuan ini terdiri dari lanau dan lempung, berwarna coklat kehitaman, mengandung sedikit moluska, ostrakoda, foraminifera plankton dan benthos. Tebal satuan ini lebih kurang 125 meter. Satuan ini merupakan daerah tempat budidaya/tambak bandeng, udang dan sebagian hutan bakau. Daerah penyebarannya meliputi daerah muara sengai besar antara lain yaitu Sungai Cimanuk dan Sungai Cililin, umur satuan ini adalah Holosen.

    Endapan Sungai (Qa), terdiri dari pasir lanau dan lempung, berwarna coklat. Daerah penyebarannya melampar terutama di sepanjang Sungai Cimanuk. Tebal satuan ini lebih kurang 50 meter, satuan ini berumur Holosen.

    Endapan Pantai (Qac), satuan ini terdiri dari lanau dan lempung dan pasir, banyak mengandung pecahan moluska berwarna abu-abu kehitaman. Ketebalan satuan ini lebih kurang 130 meter. Satuan ini berbatasan dengan tanggul-tanggul pantai dengan penyebaran di pantai bagian tengah dan timur, merupakan daerah pesawahan dan tambak garam. Satuan ini berumur Holosen.

    Endapan Pematang Pantai (Qbr), terdiri dari pasir kasar hingga halus dan lempung, banyak mengandung cangkang moluska penyebaran satuan ini membentuk pematang-pematang yang tersebar di daerah pantai dengan bentuk yang sejajar satu sama lain, di daerah-daerah antara lain Sadari-Sungai Buntu, di sekitar Pondok Bali dan di sekitar "Genteng" terus ke pantai timur Delta Cipunagara, beberapa ada yang memancar dari satu titik (apek), tinggi pematang ada yang mencapai 5 meter. Ketebalan satuan ini berkisar 25-50 meter. Pematang pantai ini merupakan daerah pemukiman dan lokasi jalan jalur/jalan raya. Satuan ini berumur Holosen.

    Endapan Dataran Banjir (Qaf), terdiri dari lempung pasiran, lempung humusan, dan lempung lanauan, berwarna abu-abu kecoklatan sampai kehitaman, satuan ini menutup satuan yang lebih tua ditandai dengan adanya bidang erosi seperti yang nampak antara lain di tebing-tebing Sungai Cibogor dan Sungai Kandanghaur bagian hulu. Tebal satuan ini lebih kurang 120 meter, berumur holosen melampar luas sampai ke Cirebon dan Arjawinangun.

    Endapan Rawa (Qac) , terdiri dari pasir halus, cangkang kerang moluska dan koral, setempat mengandung sisa tumbuhan, merupakan endapan permukaan terdapat di sekitar pesisir pantai mulai dari Sungai Buntu sampai Eretan dengan ketebalan 5 hingga 10 meter, berumur holosen/kuarter.

    3.3 Sumberdaya Geologi

    Sumberdaya geologi dibagi menjadi sumberdaya mineral, sumberdaya air, dan bahan galian. Daerah pantai Jawa Barat bagian utara khususnya daerah Indramayu sebagian besar merupakan daerah dataran pantai dengan berbagai jenis sebaran batuan. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap keairan baik air permukaan, air tanah dangkal, maupun air tanah dalam. Sumberdaya air diuraikan secara lengkap pada Bab selanjutnya .

    a. Bahan Galian

    Bahan galian yang telah dimanfaatkan, berupa pasir sungai, pasir pantai, lempung/tanah liat dan sirtu.

    Pasir sungai , merupakan endapan hasil sedimentasi masa kini (resen) karena itu endapan ini masih berada di lingkungan sungai, terakumulasi di sekitar kelokan sungai dan di sekitar muara sungai.

    Endapan sirtu , dapat dijumpai di dalam sungai atau di bagian tepi sungai dengan cadangan yang cukup banyak, tetapi sulit dihitung karena merupakan endapan alur sungai. Pasir sungai ini banyak diambil di antara lain sepanjang alur S. Citarum, S. Cikarang, S. Cigentis, S. Cipamingkis, S. Cimanuk, berwarna abu-abu kecoklatan, berbutir halus-sedang bercampur dengan lanau dan lumpur. Endapan sirtu dapat digunakan sebagai bahan agregat beton, untuk urugan dan keperluan lainnya. Cadangan pasir sungai tidak dapat dihitung karena setiap hari akan terendapkan pasir yang terbawa arus.

    Pasir pantai , cukup melimpah disepanjang muara sungai Cimanuk, hanya pengambilan pasir di daerah pantai, lebar pantai berpasir ini berkisar antara 5-30 meter.

    Lempung/tanah liat , penyebaran cukup melimpah, sebagian besar terdapat di bagian tengah, dan timur daerah pemetaan. Berasal dari pelapukan batuan sedimen yang mengandung endapan vulkanik, berwarna coklat kemerahan dan abu-abu kecoklatan, bersifat lunak agak padat, plastis sebaliknya bila kering keras dan rapuh. Lempung tersebut cukup baik untuk bahan pembuatan batubata dan genteng dan juga cukup baik untuk bahan urugan.

    Lempung ini merupakan pelapukan dari aluvium, batupasir tufaan, tebal < 2 meter, warna merah kekuningan-kuning kecoklatan. Kualitas lempung yang baik terdapat di sekitar Kroya-Kedokan Gabus merupakan pelapukan dari batupasir tufaan, lempungnya liat, lengket, mengandung pasir sedikit. Cadangan diperkirakan mencapai 200.000 m 3.

    b. Minyak dan Gas Bumi

    Lapangan Minyak dan Gas Bumi

    Minyak dan gas bumi di wilayah pesisir dari Bekasi hingga Cirebon terdapat di darat dan di lepas pantai. Formasi batuan yang mengandung minyak dan gas bumi adalah formasi Cibulakan (Jatiluhur) terdiri dari lempung dan gamping bersisipan batupasir dengan ciri laut dangkal, formasi Jatibarang terdiri dari batuan vulkanik berumur (Eosen–Oligosen), formasi Parigi berupa batu gamping. Formasi ini termasuk blok Dataran Jakarta – Cirebon (Martodjojo, 1975).

    Sebaran lapangan minyak dan gas bumi yang telah dilakukan explorasi dan explitasi hingga saat ini dapat dilihat pada Tabel 3.1 di bawah ini (Pertamina, 1999).

    Tabel 3.1. Lapangan minyak ‘on shore’ yang dikelola oleh Pertamina di Pesisir Utara Jawa Barat

    LapanganTahun

    Cadangan Minyak (x 1 juta barel)

    Cadangan Gas (x 1 milyar kaki kubik)

    Sistem Ciputat:      
    Jatinegara 1989 - 20
    Jatirarangon 1982 1 20
    Tambun 1992 - 1
    Cikarang 1988 - 40
    Sistem Cipunegara :      
    Tugu Barat 1979 11 50
    Haurgeulis 1982 - 50
    Sukatani 1983 - 75
    Kandang Haur Barat 1984 1 -
    Pasircatang 1992 - 100
    Sistem Pasirbungur :      
    Pegaden 1975 10 5
    Pamanukan Selatan 1980 - 50
    Pasirjadi 1985 5 60
    Pasirjadi Naik 1987 - 2
    Gambarsari 1989 - 30
    Katomas 1990 - 1
    Sindangsari 1990 - 50
    Bojongraong 1993 - 75
    Sistem Jatibarang :      
    Jatibarang 1969 130 150
    Sindang 1970 10 50
    Gantar 1973 - 400
    Randengan 1973 5 20
    Kandang Haur Timur 1974 2 100
    Cemara 1976 8 600
    Cemara Timur 1976 - 200
    Cemara Selatan 1977 7 10
    Waled Selatan 1978 1 -
    Sindang Blok Turun 1981 - 1
    Sambidoyong 1985 1 -
    Kapetakan 1986 - 50

    Sumber: Arco-Pertamina, 2000

    2. Pengolahan Minyak dan Gas Bumi

    Data dan laporan mengenai lokasi, produksi, bahan baku, dan penyaluran pada industri kilang minyak dan gas bumi untuk keperlu an bahan bakar minyak (BBM) didapat dari Pertamina Unit Pengolahan (UP) VI Balongan.

    Dalam rangka tersedianya Bahan Bakar Minyak (BBM), Pertamina mengoperasikan beberapa kilang minyak di Indonesia , salah satunya yaitu di Kecamatan Balongan, Indramayu. Kilang UP VI Balongan dapat memenuhi kebutuhan BBM untuk DKI Jakarta (40 %) dan sebagian Jawa Barat.

    Tabel 3.2. Lapangan Minyak ‘off shore’ yang dikelola oleh ARCO (> tahun 1990) :

    Sumber : Arco-Pertamina, 2000.

    Untuk menyiapkan lahan kilang ini diperlukan pengurugan dengan pasir laut yang diambil dari Pulau (Atol) Gosong Tengah yang termasuk dalam gugusan Pulau Rakit (P. Biawak), berjarak sekitar 70 km dari pantai Balongan. Luas area kilang adalah sekitar 250 ha memerlukan sekitar 3 juta meter kubik pasir laut diambil dari P. Gosong Tengah seluas 20 ha dari luas keseluruhan 525 ha. Penambangan dilakukan dengan kapal keruk isap.

    Tahun 1980 telah dibangun terminal Balongan dan pada tahun 1994 kilang minyak Balongan mulai dioperasikan. Kapasitas kilang BBM Balongan adalah 125.000 BPSD (Barrel per Stream Day). Bahan baku adalah minyak mentah Duri (70 %) dan minyak mentah Minas (20 %), minyak mentah Jatibarang (10 %). Gas alam Jatibarang 18 MMSCFD (juta kaki kubik perhari). Produk yang dihasilkan adalah BBM meliputi Premium (57.500 BPSD), Kerosene (9.300 BPSD), Automotive Diesel Oil (29.600 BPSD), Industrial Diesel Oil (7.000 BPSD), dan Decant Oil Fuel Oil (8.500 BPSD). Produk Non BBM adalah LPG (700 ton/hari), Propylene (600 ton/hari), Ref.Fuel Gas (125 ton/hari) dan Sulphur ( 30 ton/hari). Sedangkan produk Bahan Bakar Khusus yang dihasilkan adalah Super TT (580 BPSD) dan Premix (10.000 BPSD).

    Pada tahun 1977 telah diresmikan kilang LPG Mundu di Kecamatan Karangampel, Indramayu, kapasitas terpasang mengolah bahan baku Natural Gas sebesar 1.000.000 NM3/hari (37 MMSCFD). Bahan baku adalah Non Assosiated Gas sebesar 600.000 NM3/hari dan Assosiated Gas sebesar 400.000 NH3/hari. Produk yang dihasilkan adalah produk utama LPG (100 ton/hari), Minasol-M (56 Kl/hari), Lean Gas ( 656.00 N3M/hari dan Propane.

    Pola penyaluran adalah melalui truk tangki dan export (LPG 26.000 ton/bulan), Propylene untuk export dan industri (15.500 ton/bulan), pipanisasi ke Jakarta (Premium 270.000 ton/bulan, Premix 39.000 ton/bulan, dan Kerosene 40.000 ton/bulan), mobil tangki ke Jakarta (Super TT 300 ton/bulan dan Sulfur 250 ton/bulan), kapal tanker (IDF 17.500 ton/bulan), dan export (Decant 44.000 ton/bulan).

    3.4. Proses Geodinamika

    Proses geologi yang terdapat di Pantai Jawa Barat Bagian Utara adalah erosi, abrasi, akresi, amblesan dan intrusi air asin. Abrasi terjadi hampir disepanjang pantai utara yang diperparah oleh adanya perubahan lahan hutan bakau menjadi areal pertambakan. Sedimentasi di beberapa muara sungai pantai utara dengan adanya delta-delta sungai sehingga mengakibatkan garis pantai bertambah ke laut. Sedangkan intrusi air asin terutama pada morfologi dataran di beberapa tempat.

    3.4.1 Erosi Tebing Sungai

    Erosi pada tebing sungai terdapat berupa longsoran dan runtuhan. Umumnya terjadi pada alur sungai yang membelok. Erosi terjadi pada tebing gusur luar tingkungan yang selalu dihantam oleh kekuatan arus air sungai. Pada daerah dataran lanjutan proses erosi ini membentuk meander.

    Selain dari itu kerjaan manusia dapat pula mempercepat proses erosi tersebut seperti di sekitar lokasi penambangan batukali. Seperti terlihat pada alur sungai Cipamingkis di daerah Cibarusah dimana telah mengancam dan menghancurkan rumah penduduk yang berlokasi di tepi sungai. Pengambilan bongkahan batukali dapat mempercepat arus air sungai, sehingga kekuatan arus menghantam tebing lebih kuat dan terjadi lekukan pada kaki tebing sungai. Karena sudah tidak ada penahan maka tebing sungai bagian atas runtuh.

    3.4.2 Amblesan

    Proses ini dapat terjadi apabila di bawah lapisan yang keras dijumpai adanya lapisan kompresibilitasnya tinggi, sehingga apabila beban yang ada di atas lapisan keras tersebut melebihi daya dukung yang diijinkan maka kemungkinan besar akan terjadi perosokan (settlement). Dari hasil pengamatan lapangan, analisis sifat fisik tanah pelapukan dan kemiringan lereng, dapat terlihat bahwa daerah pemetaan merupakan daerah yang mempunyai kerentanan gerakan tanah sangat rendah. Artinya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jenis longsoran atau runtuhan batu.

    Gerakan tanah jenis amblesan merupakan jenis gerakan tanah yang banyak dijumpai dihampir seluruh daerah pemetaan, hal ini disebabkan oleh sifat tanah permukaan yang lunak, mudah menyerap air, sehingga daya dukung rendah. Bahan-bahan jalan yang melewati tanah ini akan mudah rusak seperti dijumpai dijalur jalan dari Indramayu-Karanganyar (Ujung Delta Cimanuk), tempat-tempat jalur jalan negara antara Losarang-Eretan Wetan, di jalur jalan di sekitar Kedokan Gabus-Kroya- Bongas-Kedayakan.

    Di daerah yang berpotensi terjadi perosokan adalah daerah pematang pantai di mana lapisan keras berada pada kedalaman 5-10 meter sedangkan dibawahnya didapatkan lapisan lempung/lanau lunak. Demikian pula dibeberapa tempat di daerah dataran rawa setempat bagian atas sudah padat akan tetapi bagian bawah masih merupakan lapisan lempung/lanau lunak sehingga bila ada beban yang cukup berat juga akan mengakibatkan terjadinya perosokan.

    3.5. Satuan Geologi Lingkungan

    Satuan Geologi Lingkungan merupakan perpaduan dari parameter struktur, litologi, morfologi dan proses geologi yang terjadi disekitar pesisir. Pembagian satuan geologi lingkungan telah menjadi acuan DGTL Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral untuk rekomendasi pengembangan suatu kawasan ditinjau dari aspek geologi di seluruh Indonesia. Pertimbangan aspek-aspek ini adalah geomorfologi, litologi, sifat fisik tanah/batuan, proses geodinamis dan sumberdaya mineral:

    1. Satuan Geologi Lingkungan Dataran Pantai

    Satuan geologi lingkungan ini daerahnya merupakan morfologi dataran meliputi dataran pantai, dataran pematang pantai. Kemiringan lereng kurang dari 3 %, elevasi ketinggian < 5 meter diatas permukaan laut. Jenis pantai adalah relif rendah/halus, relatif lurus, setempat adalah berbetuk ‘cliff’ (tinggi tebing < 2 meter), dan fluvial deltaik. Litologi terdiri dari endapan-endapan pantai, rawa, pematang pantai dan delta. Dengan material campuran antara lempung lanauan. Lanau pasiran, pasir dan lempung. Sifat fisik dan keteknikan tanah/batuan umumnya kompresibilitas sedang hingga tinggi, lunak hingga teguh, mengandung sisa cangkang moluska dan sisa tanaman. Ketebalan < 10 meter, daya dukung untuk pondasi dangkal antara 2 hingga 11 ton/m 2. Proses geodinamis yang dominan adalah abrasi dan akresi di pantai. Hal ini menyebabkan perubahan garis pantai begitu cepat. Perubahan tersebut adalah pengurangan daratan hingga jarak 600 m dari garis pantai semula ke arah daratan, dengan kecepatan antara 2–20 m/tahun. Penambahan daratan hingga 7 km dari tahun 1946 hingga tahun 1978 ke arah laut. Amblesan terjadi terutama pada daerah rawa-rawa dengan endapan lempung dan lanau sebagai penyusunnya. Intrusi air asin terutama telah mencemari air tanah dangkal hingga jarak 7 hingga 15 km dari garis pantai kearah darat. Sumberdaya mineral adalah berupa air permukaan dan air tanah. Air permukaan melimpah sebagai air sungai-sungai. Air tanah dangkal terdapat hingga kedalaman 40 meter dibeberapa tempat. Sedangkan air tanah dalam terdapat lebih dari kedalaman 40 meter. Air tanah tersebut terdapat pada akuifer produktivitas sedang. Sumberdaya lain adalah bahan galian golongan C yaitu pasir laut, pasir sungai dan sirtu yang digunakan terutama sebagai bahan bangunan. Sedangkan minyak dan gas bumi tersebar baik di daratan dan di lepas pantai dengan total lapangan minyak sekitar 50. Eksplorasi dan eksploitasi dilakukan oleh Pertamina dan Arco.

     2.Satuan Geologi Lingkungan Dataran Aluvial

    Satuan Geologi Lingkungan ini daerahnya merupakan geomorfologi dataran aluvial sungai, dengan kelandaian hampir datar hingga datar, kemiringan lereng 0 hingga 5 %. Terdiri dari endapan rawa dan alur sungai tua. Sungai resen berbentuk meandering dan berpotensi banjir. Material sungai terdiri dari pasir, lanau, lempung lanauan, dan kerikilan. Sifat fisik lunak, plastisitas tinggi, daya dukung untuk pondasi dangkal antara 13 hingga 17 ton/m 2. Proses geodinamis antara lain erosi lahan dan amblesan. Air permukaan melimpah sebagai air sungai. Air tanah dangkal terdapat hingga kedalaman 10 meter dibeberapa tempat. Sedangkan air tanah dalam terdapat lebih dari kedalaman 40 meter. Air tanah tersebut terdapat pada akuifer produktivitas sedang. Sumberdaya lain adalah bahan galian golongan C yaitu pasir sungai dan sirtu yang digunakan terutama sebagai bahan bangunan. Sedangkan minyak dan gas bumi tersebar di satuan ini.

    Tabel 3.3. Satuan Geologi Lingkungan Pesisir Pantura Jawa Barat

    Satuan Geologi LingkunganSatuan Geologi Lingkungan Dataran PantaiSatuan Geologi Lingkungan Dataran AlluvialSatuan Geologi Lingkungan Alur Sungai
    Geomorfologi Dataran pantai dan rawa, kemiringan <3%, jenis pantai relief halus, setempat ‘cliff’, delta Dataran alluvial sungai purba, kemiringan lereng 3-5% dataran limpah banjir Alur sungai, limpah banjir ‘meandering’ kemiringan lereng 3-5%
    Litologi Endapan-endapan pantai, rawa, pe,atang pantai, sungai dan delta, terdiri lempung lanauan, pasir lanauan, pasir, sisa cangkang moluska dan tanaman Endapan sungai dan volkanik terdiri dari lempung, pasir, kerikil dan lanau Alluvium sungai muda terdiri dari lempung lanau pasiran, pasir, Kerikil
    Sifat Fisik dan Keteknikan tanah/ batuan Warna gelap, lunak, tebal tanah pelapukan < 10 m dan daya dukung < 10 ton/m2 posisi dangkal Warna gelap, sedang-keras, daya dukung 17 ton/m2 pondasi dangkal Lunak-teguh, daya dukung 7-14 ton/m2 pomdasi dangkal
    Proses Geodinamis Avrasi, akresi dan amblesan erosi dan amblesan Erosi tebing tinggi
    Air Tanah Akuifer air tanah dangkal < 5 m, debit < 5l /dt, akuifer air tanah dalam > 30 m, instrusi air asin, akuifer produktif sedang Akuifer air tanah dangkal < 10m, debit 5 lt/dt, akuifer air tanah dalam .>30 m, instrusi air asin, alkuifer air asin, akuifer produktif sedang air sungai
    Sumberdaya Mineral Minyak dan gas bumi, pasir sungai, pasir laut Minyak dan gas bumi, pasir sungai, pasir kerikil Pasir dan lanau, sungai

    Sumber: Direktorat Geologi Tata Lingkungan, DESDM, 2000 dalam PKSPL-IPB, 2000

     3. Satuan Geologi Lingkungan Alur Sungai

    Satuan geologi lingkungan ini merupakan dataran lembah sungai yang terdiri dari alur-alur sungai dan tanggul-tanggul sungai masa sekarang. Kemiringan hampir datar hingga datar, 0 hingga 5 %.

    Sungai ini membentuk ‘meandering’ mengalir dari arah selatan dan bermuara ke pantai utara Jawa Barat. Sungai ini berpotensi banjir dan terjadi erosi tebing sungai. Litologi terdiri dari lempung lanauan, lanau pasiran, pasir dan kerikil. Sifat fisik lunak, plastisitas tinggi, daya dukung untuk pondasi dangkal antara 8 hingga 10 ton/m 2. Sumber daya yang utama adalah air permukaan dan bahan galian golongan C pasir dari sungai yang cadangannya sangat melimpah.

    Secara spasial kondisi geologi lingkungan pesisir wilayah utara Jawa Barat dapat dilihat pada Peta 2 Geomorfologi Wilayah Pesisir Pantura Jawa Barat

     
  • OSEANOGRAFI PERAIRAN PESISIR BAGIAN UTARA

    Untuk memahami kondisi oseanografi di perairan pesisir Jawa Barat bagian utara tidak dapat lepas dari kajian laut secara regional, dimana laut di bagian utara pesisir Jawa Barat termasuk bagian dari Laut Jawa. Untuk itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit oseanografi seperti Topex/Poseidon dan ERS-2 (European Remote Sensing Satellite) yang efektif memberikan gambaran lengkap tentang proses fisik yang terjadi di permukaan laut secara regional dan terus menerus (real time). Akan tetapi, masih memiliki keterbatasan dalam memberikan informasi spasial di bawah permukaan laut yang hanya dapat diperoleh melalui observasi langsung. Oleh karena itu, kedua jenis data tersebut diperlukan secara terpadu untuk memahami proses fisik yang menyebabkan terjadinya dinamika laut di pesisir pesisir Jawa Barat bagian utara. Selain itu masukan air tawar dari beberapa sungai yang bermuara di pantai utara Jawa Barat juga mempengaruhi karakteristik pantai dalam hal terjadinya sedimentasi dan bentuk-bentuk estuari.

    5.1 Arus

    Parameter arus permukaan mengikuti pola musim, yaitu pada musim barat (bulan Desember sampai Pebruari) arus permukaan bergerak ke arah timur, dan pada musim timur (bulan Juni sampai Agustus) arus bergerak ke arah barat. Pada musim barat, arus permukaan ini mencapai maksimum 65,6 cm/detik dan minimum 0,6 cm/detik, sedangkan pada musim timur arus maksimum mencapai 59,2 cm/detik dan minimum 0,6 cm/detik. Tinggi gelombang di laut Jawa umumnya rata-rata kurang dari 2 meter (PKSPL-IPB, 2000).

    Rata-rata bulanan kondisi laut selama 44 tahun (1959-2002) menunjukkan bahwa pada saat musim barat laut (digambarkan pada bulan Januari) di Laut Jawa massa air bergerak dari Laut Cina Selatan melalui Selat Karimata di utara Laut Jawa keluar ke arah timur dan sebagian melalui Selat Sunda. Sebaliknya pada musim tenggara (digambarkan pada bulan Agustus) massa air dari bagian timur masuk ke Laut Jawa, sebagian keluar melalui Selat Karimata dan sebagian melalui Selat Sunda menuju ke Samudra Hindia. Massa air dari Laut Jawa dengan salinitas rendah selalu menuju ke Samudra Hindia melalui Selat Sunda (Putri, 2005).

     

    Gambar 5.1 . Pergerakan Massa Air di Indonesia

    Pergerakan massa air laut yang dipengaruhi oleh pola musim diyakini dapat mempengaruhi produksi perikanan di Laut Jawa termasuk wilayah Pantai Utara Jawa Barat. Menurut para nelayan di pesisir Laut Jawa, telah terbentuk pola pikir berdasarkan pengalaman bahwa pada musim barat terjadi musim paceklik, dimana nelayan sulit mendapatkan ikan dalam jumlah yang memadai, sebaliknya pada musim timur, jumlah ikan yang tertangkap umumnya cukup memadai. Pada musim timur, secara umum di perairan Indonesia angin bergerak dari tenggara ke arah barat laut, memindahkan massa air hangat di permukaan sepanjang pantai Paparan Sunda dari arah timur Indonesia ke arah laut lepas di bagian barat Indonesia (Ekman Transport). Pada lokasi tertentu, kekosongan massa air di permukaan selanjutnya diisi oleh naiknya massa air di kedalaman yang lebih dingin, sekitar 25-27 derajat Celcius (rata-rata suhu permukaan di perairan Indonesia 28-29 derajat Celcius), dan kaya zat hara. Fenomena ini tentu terkait dengan produktifitas perairan yang menyediakan input nutrien bagi populasi ikan yang dapat meningkatnya produktivitas hasil

    perikanan selama musim timur di wilayah perairan Indonesia. Massa air ini bergerak ke arah barat dan masuk ke wilayah Laut Jawa termasuk di bagian laut di pantai utara Jawa Barat hingga keluar di Selat Sunda menuju Samudera Hindia.

    Pengukuran arus perairan di wilayah pantai Subang menunjukkan bahwa di perairan pantai Mayangan arus pasang berkisar antara 1.4 – 31.5 cm/det mengalir dominan ke arah barat, dan arus surut berkisar antara 0.7 – 28.1 cm/det yang mengalir dominan ke arah barat. Di lokasi pantai Ciasem arus pasang berkisar antara 1.5 – 30.7 cm/det yang dominan kearah barat, sedangkan arus surut berkisar antara 1.9 cm/det sampai 33.5 cm/det dominan kearah barat (Puslitbang Pengairan, 1985). Arah arus dominan ke arah barat pada waktu pasang maupun surut ini diperkirakan bahwa komponen arus musiman menjadi dominan di wilayah perairan iini.

     5.2 Batimetri

    Perairan laut wilayah barat Indonesia termasuk bagian dari paparan sunda dan umumnya mempunyai karakteristik perairan yang relatif dangkal. Morfologi perairan pantai juga dipengaruhi karakteristik wilayah pantai seperti keberadaan aliran sungai, terutama sungai-sungai yang membawa material erosi dari bagian hulu, sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap kelandaian, pembentukan lekukan teluk dan tanjung di sepanjang pantai. Hal ini seperti terlihat pada perairan pesisir utara Propinsi Jawa Barat, dimana kondisi pantai umumnya landai dengan kemiringan antara 0,06 % di wilayah Teluk Cirebon sampai 0,4 % di wilayah Ujung Karawang. Perbedaan kelandaian pantai ini biasanya berkaitan dengan dinamika perairan pantai, dimana wilayah teluk umumnya menunjukkan wilayah yang relatif lebih landai dibandingkan dengan wilayah tanjung. Diperkirakan bahwa pada jarak rata-rata 4 km (2,3 mil laut) dari garis pantai kedalaman mencapai 5 meter, kemudian pada jarak rata-rata 13 km (7 mil laut) kedalaman menjadi 10 meter, dan pada jarak 21 km (~ 13 mil laut) kedalaman mencapai 20 meter. Kontur kedalaman kurang dari 5 meter memperlihatkan kondisi yang relatif sejajar dengan garis pantai. Demikian juga pada garis kedalaman antara 5 - <10 meter dan 10 - <20 meter, kecuali pada perairan sekitar Cirebon pada kedalaman antara 5 - <10 meter.

     Perairan pantai Subang memiliki kedalaman yang relatif dangkal (kurang dari 20 m) dengan gradien kedalaman yang relatif landai, dimana untuk kedalaman kurang dari 5 m di sekitar Blanakan gradiennya sekitar 0.0027 dan 0.0054 di sekitar Pusakanegara; di perairan antara 5m - 10 m gradien kedalaman berkisar antara 0.0006 (di sekitar Blanakan) sampai 0.0027 (di sekitar Pusakanegara). Hal ini berarti bahwa di bagian barat pantai Subang (seperti Kecamatan Blanakan) lebih landai dibandingkan dengan di bagian timur pantai Subang (seperti Kecamatan Pusakanegara). (Sumber Atlas Subang, 2002)

    Wilayah pantai Blanakan Subang yang berbentuk seperti teluk memungkinkan terjadinya proses pengendapan sedimen dari sungai dan dari angkutan sedimen pantai menjadi lebih besar, sehingga di wilayah ini laju pendangkalan perairan sangat besar. Dari hasil observasi lapangan diperoleh keterangan bahwa luas lahan timbul dari hasil pengendapan sedimen ini mencapai sekitar 400 Ha yang berada di sekitar muara sungai Blanakan. Di wilayah timur pantai Subang dengan garis pantai memanjang dalam arah tenggara - baratlaut cenderung mengalami penggerusan garis pantai (abrasi).

    Gambar 5.2 . Peta Batimetri Perairan Subang

    (Sumber: ATLAS Kabupaten Subang, 2002)

    Di perairan kabupaten Cirebon, kedalaman perairan pada jarak 4 mil bagian terdalam mencapai 10.5 meter berdasarkan surut terendah. Pada lokasi tanjung dan daerah dekat pantai kontur kedalaman laut semakin rapat dan semakin ke arah lepas pantai pola kontur kedalaman laut semakin renggang (PPGL, 2004).

    5.3 Pasang Surut

    Pasang surut (pasut) merupakan gerakan permukaan air laut yang teratur secara periodik. Walaupun secara umum pergerakan pasang dan surut ini dapat dipengaruhi oleh posisi bulan dan matahari, namun karakter perairan pantai seperti wilayah kepulauan dan kedalaman juga memberikan sumbangan terhadap sifat pasut secara lokal. Kompleksitas faktor fisik ini menyebabkan perubahan sifat pasut yang bervariasi dari wilayah satu ke wilayah lainnya. Paling tidak pengaruh posisi bulan dapat dicirikan dengan adanya pasang purnama dan pasang perbani, sedangkan karakteristik pantai akan mempengaruhi tipe pasut seperti sifat diurnal, semidiurnal, dan campuran (baik yang mengarah ke diurnal atau ke diurnal atau ke bentuk semidiurnal).

    Sifat diurnal apabila wilayah pantai hanya mengalami satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, semidiurnal terjadi jika pantai mengalami dua kali pasang dan dua kali surut dengan ketinggian yang sama. Sifat pasut campuran terjadi apablia pada wilayah pantai mengalami dua kali pasang dan dua kali surut dengan ketinggian yag berbeda. Berdasarkan data prakiraan dari dua stasiun (Tanjung Priok dan Cirebon), tipe pasut di wilayah pantai Jawa Barat bagian utara termasuk kategori campuran mengarah ke semidiurnal. Kisaran maksimum tinggi pasang dan surut terbesar adalah 1 meter dan kisaran tinggi pasang dan surut kedua adalah 0,5 - 0,7 meter (Dishidros-TNI AL, 2000).

    Berdasarkan hasil pengamatan PPGL dan Bappeda Cirebon (2004), nilai formzal (F) di Pelabuhan Cirebon yang diamati selama 15 hari (30 Juni – 14 Julu 2004) mendapatkan nilai sebesar 0.06006. Nilai berarti tipe pasang surut di perairan Cirebon adalah pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide prevailing semi diurnal) yang berarti dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut, tetapi tinggi dan periodenya berbeda.

    Sedangkan di lokasi Mayangan Kabupaten Subang, menurut kajian Atmadipoera (2002) Jenis pasut di lokasi ini memiliki nilai formzal F = (19.3+11.4)/(10.5+7.7) = 1.69, berarti tipe pasut campuran yang condong ke harian tunggal dengan tunggang pasut adalah 61.4 cm. Hal ini berarti dalam satu hari kadang-kadang terdapat hanya satu kali pasang dan satu kali surut, tetapi juga kadang terdapat dua kali pasang dan dua kali surut. Dari konstanta pasut itu dapat diketahui :

    a. Muka air pasang paling tinggi (MHHW): 207.9 cm

    b. Muka air pasang rata-rata (MHW): 153.2 cm

    c. Muka air rata-rata (MSL): 142.7 cm

    d. Muka air surut rata-rata (MLW): 132.2 cm

    e. Muka air surut paling rendah (MLLW): 77.5 cm

    Jenis pasut di lokasi Ciasem yang terletak 4 km ke arah barat dari lokasi Mayangan, nilai F = (18.1+12.4)/(11.4+8) = 1.57 yang berarti tipe pasut campuran yang condong ke harian tunggal dengan tunggang pasut sekitar 61 cm. Untuk pasang surut untuk bulan September 2003 berdasarkan hasil perhitungan dari komponen pasut di atas ditampilkan pada gambar grafik ramalan pasang surut stasiun Mayangan dan Ciasem di bawah ini.

    Text Box:

    A  

       

    B

    Gambar 5.3 . Grafik Ramalan Pasang Surut Stasiun Mayangan (A) dan Ciasem (B)

    (Sumber: Atmadipoera, 2002)

    5.4 Iklim dan Cuaca

    Pemaparan sistem iklim di pesisir Jawa Barat bagian utara tidak dapat dilepaskan dari sistem iklim di Indonesia. Iklim di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh angin muson yang mengakibatkan dua musim yaitu musim barat dan musim timur. Informasi iklim dan cuaca pada setiap wilayah pesisir pantai utara Jawa Barat masih terbatas, namun hasil studi di wilayah Indramayu menunjukkan bahwa selama periode 14 tahun (1980-1993) angin umumnya berasal dari barat laut (29,35 %), timur laut (22,01 %) dan Utara (18,32 %) (Pemerintah Kabupaten Indramayu, 1996). Kecepatan angin umumnya (41,35 %) bertiup dengan kisaran antara 3-5 m/det, sedangkan (0,62 %) kecepatan angin sangat lemah yaitu < 1 m/det yang dapat diklasifikasikan pada kondisi teduh.

    Pada musim barat terjadi pada bulan Desember sampai bulan Februari, dimana angin umumnya (30-40 %) bertiup dari arah barat laut dengan kecepatan 4-6 m/det. Hanya sebagian kecil (10 %) angin bertiup dari arah barat daya dengan kecepatan 3 m/det. Selanjutnya pada bulan Maret sampai bulan Mei merupakan musim peralihan antara musim barat ke musim timur. Kondisi angin sangat berubah-ubah, walaupun masih didominasi (30-50 %) dari arah timur laut dengan kecepatan angin 2-4 m/det. Pada musim tersebut juga diindikasikan adanya angin dari arah utara (20 %) dengan kecepatan 3 m/det, sedang dari arah barat laut (20 %) juga dengan kecepatan 3 m/det.

    Bulan Juni sampai bulan Agustus merupakan puncak musim timur dimana angin umumnya (30-40 %) bertiup dari arah timur laut dengan kecepatan 3-6 m/det. Disamping itu juga terdapat angin berasal dari utara dan barat laut masing-masing 20 % dengan kecepatan 2 m/det. Sebelum kembali ke musim barat, terjadi musim peralihan dari timur ke barat yang terjadi antara bulan September sampai bulan November dengan kecepatan 4-6 m/det, dan hanya sebagian yang berasal dari angin timur laut (18 %) dengan kecepatan 1-3 m/det.

    Pergantian musim juga ikut memberikan pengaruh terhadap pergerakan masa air seperti arus. Pada musim barat pergerakan arus umumnya menuju ke arah timur atau arus timur dengan kecepatan berkisar antara 3-14 mil per hari. Musim timur arus bergerak sebaliknya yaitu menuju arah barat dengan kecepatan berkisar antara 1 - 13 mil per hari. Musim peralihan I (bulan Maret sampai bulan Mei) dan peralihan II (bulan September sampai bulan November) kecepatan arus laut masing-masing adalah 1 mil per jam dan 6 mil per jam. Di wilayah pantai arus umumnya merupakan arus gabungan yang ditimbulkan oleh arus regional dan arus pasut.


    Gambar 5.4a . Pola arah dan kecepatan angin serta curah hujan di wilayah Indonesia (KK Liu, 2004) A Bulan Februari, B bulan Mei Panjang panah menunjukan kecepatan angin (m/det), Skala warna menunjukkan besaran curah hujan

     

       

    Gambar 5.4b . Pola arah dan kecepatan angin serta curah hujan di wilayah Indonesia (KK Liu, 2004); C Bulan Agustus; D Bulan November. Panjang panah menunjukan kecepatan angin (m/det), Skala warna menunjukkan besaran curah hujan.

     

    5.5 Gelombang

    Gelombang laut merupakan suatu gerakan masa air yang juga dapat disebabkan karena tiupan angin. Kekuatan gelombang laut dipengaruhi oleh kecepatan angin, periode angin dan kondisi terbuka dan tertutupnya perairan terhadap angin. Dengan memperhatikan penyebab timbulnya gelombang, maka secara tidak langsung kondisi gelombang perairan dapat diperoleh dari data angin yang bertiup pada perairan tersebut. Dengan demikian kondisi gelombang juga akan menunjukkan pola musiman.

    Kajian yang dilakukan terhadap wilayah Indramayu dengan metode SMB (Sverdrup Munk Bretch Neider) menunjukkan bahwa umumnya gelombang sesuai dengan arah angin yaitu dari arah barat laut, utara dan timur laut masing-masing sebanyak 22,25 %, 10,88 % dan 20,10 % (Pemerintah Kabupaten Indramayu, 1996). Secara keseluruhan yaitu sebanyak 28,40 % tinggi gelombang mencapai antara 0,5-0,8 meter, sedang gelombang teduh dengan ketinggian < 0,3 m sebanyak 28,40 %. Secara rinci ketinggian gelombang musiman adalah sebagai berikut:

    Pada musim barat gelombang dari barat dengan ketinggian > 1,7 m (45 %), sedangkan gelombang teduh antara 30 - 50 %.

    Musim peralihan I gelombang tetap dari barat namun ketinggian dan frekuensinya semakin kecil. Gelombang dari timur makin dominan (40 %).

    Musim timur gelombang dari timur (40 %).

    Musim peralihan II walaupun masih terdapat gelombang dari arah timur, namun masih didominasi oleh gelombang dari arah barat.

     

    Untuk wilayah Kabupaten Cirebon, prosentase seluruh angin kuat selama 6 tahun maka arah angin dari selatan yaitu 81,25%, kemudian angin barat laut dan utara sebesar 6.25%, selanjutnya angin timur 4,17%. Frekwensi terbesar kecepatan angin berada pada interval 11 – 16 Knot (Bappeda Kabupaten Cirebon, 2004 dan PPGL, 2004).

    Hasil pengamatan gelombang yang dilakukan di sekitar pantai Mayangan dan Ciasem Subang dalam musim Peralihan (Mei) menunjukkan bahwa tinggi gelombang berkisar antara 4 cm sampai 42 cm dengan periode gelombang antara 2.0 sampai 6.5 detik. Arah rambatan gelombang yang dominan berasal dari arah Utara dan Timurlaut. Di wilayah Pantai Ciasem tinggi gelombang berkisar antara 2.0 cm sampai 50 cm, dengan periode gelombang antara 1.8 sampai 5.7 detik dan arah gelombang yang dominan adalah Utara dan Timurlaut (Puslitbang Pengairan, 1985).

    Diperkirakan bahwa tinggi gelombang yang terjadi dalam puncak musim Barat (Desember-Pebruari) dan Timur (Juni-Agustus) bisa mencapai lebih dari 1 meter.

     

    Text Box:    Gambar 5.5.  Kondisi Perairan Laut Wilayah Sukra Pantura Jabar

    Fenomena gelombang tinggi umum terjadi pada masa peralihan dari musim barat ke musim timur. Pada sekitar Bulan Juni 2007 di wilayah pesisir Indramayu dan Cirebon terjadi Gelombang tinggi hingga mencapai pemukiman penduduk yang terletak sekitar 100 m dari garis pantai. Masyarakat mengenal fenomena ini sebagai ”rob”. Ketiga faktor yang melahirkan fenomena tersebut adalah terjadinya swell dari Samudra Hindia sebelah barat Australia, Gelombang Kelvin yang menjalar dari Samudra Hindia di sekitar 65 derajat bujur timur, dan posisi Bumi, Bulan, Matahari yang berada pada satu garis. Swell merupakan gelombang permukaan laut yang panjang (alun) dan bersifat cukup stabil dengan arah perambatannya lebih konstan dibandingkan dengan gelombang permukaan biasa. Swell muncul akibat adanya tekanan tinggi yang berlangsung terus-menerus dan ada angin yang stabil. Gelombang Kelvin ekuator merupakan gelombang yang selalu muncul pada masa transisi musim, bisa empat kali terjadi, tetapi biasanya muncul terkuat pada bulan Mei-Juni. Faktor ketiga adalah adanya gaya tarik terhadap Bumi yang muncul akibat posisi Matahari, Bumi, Bulan berada dalam satu garis. Gaya tarik akibat interaksi Bumi dengan Bulan dan Matahari itu menyebabkan munculnya gaya pasang surut yang menyebabkan air laut naik (pasang) lebih tinggi. Posisi segaris Matahari, Bumi, Bulan ini merupakan peristiwa siklis dengan periode sekitar 18,6 tahun. Posisi Bumi, Bulan, Matahari terus bergeser sehingga pengaruh gaya tarik tersebut berangsur berkurang dalam dua-tiga hari. Ketiga faktor itu semuanya membawa energi gelombang yang besar sehingga amplitudo masing-masing gelombang laut itu menjadi lebih besar dari biasanya. Pada kurun waktu tersebut, ketiga gelombang dengan amplitudo yang besar itu semuanya bertemu. Karena periode gelombang ketiganya tidak sama, ada saatnya terjadi penguatan satu sama lain dan terkadang terjadi juga secara bersamaan kehilangan energi sehingga akhirnya gelombangnya mengecil.

    5.6 Suhu dan Salinitas

    Suhu dan salinitas di wilayah perairan pantai utara Jawa Barat berfluktuasi secara musiman yang dipengaruhi oleh dinamika perairan Laut Jawa. Secara umum fluktuasi suhu bulanan di Laut Jawa menunjukkan adanya dua puncak maksimum (sekitar 28.7 C) dan dua puncak minimum (sekitar 27.5 C). Puncak maksimum terjadi dalam periode musim peralihan (bulan Mei dan November), sedangkan puncak minimum terjadi bulan Agustus dan Pebruari (puncak musim Timur dan Barat). Rata-rata suhu bulanan bervariasi antara 27.5 C sampai 28.7 C. Sedangkan rata-rata salinitas bulanan di perairan Laut Jawa berkisar antara 31.5 ‰ – 33.7‰. Salinitas maksimum pertama (33.7‰) dan kedua (33.3‰) terjadi dalam bulan September dan November, sedangkan salinitas minimum pertama (31.8 ‰) dan kedua (31.3 ‰) terjadi masing-masing sekitar bulan Pebruari dan Mei (BPLHD Jawa Barat, 2006).

    Variasi nilai juga terjadi pada parameter salinitas, terutama pada perairan yang terletak dekat muara sungai dimana umumnya didapatkan nilai relatif rendah (< 20 ‰ ). Perubahan nilai salinitas di daerah muara sungai dapat disebabkan oleh pengaruh pasang surut. Pada saat surut, nilai salinitas air laut menjadi relatif rendah, sebaliknya pada saat pasang nilai salinitas akan meningkat bahkan sampai mencapai puluhan meter dari garis tepi pantai.

    Salinitas menunjukkan kandungan garam terlarut yang terdapat dalam air laut dan nilainya dapat berubah akibat masukan air tawar (sungai dan proses hujan). Nilai salinitas air di Laut Pantai Utara Jawa Barat memiliki kisaran di perairan permukaan yaitu antara 30 dan 34 ‰, walaupun demikian sebenarnya nilai salinitas relatif sama seperti terlihat dari nilai rata-rata 30,4 ‰. Salinitas 30‰ merupakan kondisi umum pada perairan pantura yang banyak menerima masukan air tawar dari aliran sungai. Jika dibandingkan dengan baku mutu air laut (33–34 ‰) yang diperlukan untuk pertumbuhan terumbu karang, nilai salinitas untuk kehidupan selain terumbu karang, salinitas 30 ‰ masih memungkinkan bagi kehidupan organisme laut (BPLHD Jawa Barat, 2006).

    Secara rinci kisaran suhu dan salinitas pada daerah pantai yang pernah dilakukan pengamatan dapat dilihat dalam Tabel 5.1.

     Tabel 5.1 . Kisaran Nilai Suhu dan Salinitas pada Wilayah Pantai Jawa Barat Bagian Utara

    Sumber: PKSPL-IPB, 2000

     

    Hasil pengukuran distribusi salinitas di beberapa muara sungai di wilayah pantai Subang menunjukkan bahwa jangkauan pengaruh rambatan pasut yang membawa massa air laut ke arah hulu sungai berkisar antara 1 km sampai 3.5 km. Di sungai Poncol rambatan pasut dapat mencapai 2 km; di sungai Batang Kecil sekitar 2 - 3.5 km; di sungai Kamal sekitar 1.5 – 2 km; di sungai Mayangan sekitar 1.5 - 2.5 km; di sungai Ciasem mencapai 1 km; dan di sungai Cipunegara rambatan pasut dapat mencapai 0.5 km.

    Hasil pengamatan menunjukkan suhu lapisan permukaan sedikit bervariasi dengan kisaran antara 26,8–29,7°C serta rata-rata 27,8°C. Nilai kisaran suhu permukaan terjadi terkait dengan waktu pengukuran selama survey (pagi - sore). Nilai kisaran suhu tersebut merupakan kisaran yang sangat umum di perairan permukaan laut wilayah Indonesia sebagai perairan laut tropis .

    5.7 Kualitas Air

    Hasil monitoring kualitas air laut di pesisir utara Jawa Barat (BPLHD Propinsi Jawa Barat, 2006) diperoleh informasi bahwa kondisi perairan laut di pesisir utara Jawa Barat adalah tercemar sedang dengan nilai Indeks Pencemaran berkisar dari 7,391 – 9,843. Parameter-parameter pH, fosfat, sianida, minyak dan lemak, raksa dan krom valensi 6, nilainya di semua stasiun memenuhi nilai baku mutunya masing-masing. Kandungan fenol (berkisar dari 0,011 – 0,860 mg/l) di semua stasiun telah melebihi nilai baku mutu untuk biota laut, yaitu 0,002 mg/l. Kandungan PAH, PCB dan pestisida, semuanya berada di bawah nilai baku mutunya masing-masing.

    Parameter yang memenuhi nilai baku mutu di semua stasiun : pH, fosfat, CN, minyak/ lemak, Hg, Cr6+.

    Parameter yang tidak memenuhi nilai baku mutu di beberapa stasiun : kekeruhan, DO, Nh5, Ar, Cd, Cu, Pb, Zn, Ni, dan surfaktan.

    Parameter yang melebihi nilai baku mutunya di semua stasiun : phenol

    Rangkuman data hasil monitoring ini disajikan pada Tabel 5.2.

    Karakteristik wilayah perairan pantai biasanya tidak terlepas dari kondisi alami dan kegiatan lain yang berada di sekitarnya baik di daratan maupun di laut. Wilayah pantai Jawa Barat bagian utara merupakan salah satu kawasan pantai yang padat akan berbagai kegiatan. Kegiatan ini berada langsung di pinggiran pantai, juga di sekitar aliran/muara sungai. Kegiatan mencakup perumahan, perindustrian, pertanian termasuk pertambakan. Semua kegiatan ini tentunya akan memberikan suatu tekanan ekologis yang umumnya dapat diindikasikan dengan kondisi kualitas air perairan pantai.

    Tabel 5.2 .

    Nilai Pengamatan Kualitas air dan Baku Mutu yang Tersedia di Lokasi di Kabupaten/Kota di Pantai Utara Jawa Barat

    No.ParameterSatuanBaku mutu**)Kisaran Nilai
    BekasiKarawangSubangIndramayuCirebon
      F I S I K A :              
    1 Suhu *) o C Alami 27.5 – 29.7 27.5 – 28.8 26.8 – 27.8 26.8 - 27.9 27.1 - 28.6
    2 Salinitas *) coral :33-34 ‰ 30 - 31 30 - 32 30 30 - 34 30 - 31
    3 Kekeruhan NTU < 5 5 - 84 4 - 45 8 - 17 4 - 50 5 - 21
    4 Padatan Tersuspensi (TSS) mg/l Coral : 20 10 - 212 10 - 100 15 - 52 10 -130 13 – 80
          Mangrove : 80          
    5 Kecerahan *) m Coral : >5 0.2 – 0.9 0.3 – 2.5 0.4 – 0.9 0.35 – 1.1 0.4 – 1.2
    6 Kedalaman *) m - 1 – 6.5 1.5 - 9 2 – 8 22.5 - 5 3 - 4
      K I M I A :              
    1 pH *) - 7 - 8,5 7.57 – 8.04 8.02 – 8.09 8.06 – 8.1 7.94 – 8.11 7.89 – 7.99
    2 Oksigen Terlarut (DO) *) mg/l >5 4.13 – 5.27 5.01 – 5.46 5.17 – 5.94 4.4.6 – 6.8 4.94 - 7.11
    3 BOD 5 *) mg/l 20 0.04 - 2.05 0.59 – 1.19 0.58 – 1.76 0.06 – 3.05 0.83 - 5.11
    4 Ammonia (NH 3-N) mg/l 0,3 0.114 – 4.036 0.274 – 1.335 0.044 – 0.262 0.071 – 0.413 0.423 - 1.415
    5 Nitrat (NO 3-N) mg/l 0,008 0.680 – 1.119 0.663 – 0.900 0.630 – 0.959 0.6 – 0.826 0.651 – 0.934
    6 Phosphat mg/l 0,015 0,001 0,001 0,001 <0,001- 0.001 <0,001
    7 Sianida (CN) mg/l 0,5 0.010 - 0.037 0.006 – 0.029 0.01 - 0.016 0.005 - 0.022 0.011 – 0.023
    8 Sulfida (H 2S) mg/l 0,01 <0,03 <0,03 <0,03 <0,03 <0,03
    9 Minyak dan Lemak mg/l 1 <0,01 <0,01 <0,01 <0,01- 0.01 <0,01
    10 Phenol mg/l 0,002 0.001 – 0.09 0.024 – 0.117 0.070 - 0.11 0.038 - 0.860 0.084 – 0.169
    11 Raksa (Hg) mg/l 0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001- 0.001 <0,001
    12 Khrom Hexavalen (Cr 6+) mg/l 0,005 <0.001 <0,001- 0.001 <0.001 <0,001- 0.001 <0.001 - 0.001
    13 Arsen (As) mg/l 0,012 <0,001 <0,001- 0.033 <0.001 – 0.019 <0,001 – 0.005 <0,001 – 0.001
    14 Kadmium (Cd) mg/l 0,001 <0,001 <0,001- 0.020 <0.001 – 0.011 <0.001 – 0.008 <0,001 – 0.032
    15 Tembaga (Cu) mg/l 0,008 <0,002 <0.002 – 0.003 <0,002 – 0.002 <0,002 – 0.002 <0,002 – 0.003
    16 Timah Hitam (Pb) mg/l 0,008 <0,003 <0.032 - 0.072 0.048 - 0,097 <0,003 – 0.083 0.005 – 0.027
    17 Seng (Zn) mg/l 0,05 0.090 0.006 – 0.025 0.017 – 0.072 0.018 – 0.032 0.075 – 0.107
    18 Nikel (Ni) mg/l 0,05 <0,003 0.006 – 0.014 0.005 – 0.015 <0.003 - 0.010 0.003 - 0.102
    19 Sutrfaktan (MBAS) mg/l 1 0.898 0.098 – 0.359 0.061 - 0.149 0.112 - 0.532 0.115 – 0.898

    *) Sumber: BPLHD Jawa Barat dan PKSPL-IPB, 2006

    **) Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut Menurut Kep.Men.LH No. 51 Tahun 2004

     

    5.8 Proses Geodinamika Pesisir

    5.8.1 Abrasi

    Abrasi (pengikisan pantai), meninggalkan jejak membentuk garis pantai yang bergerigi dengan tebing berbentuk "cliff’ " berukuran pendek, tergantung topografi setempat.

    Pantai Mundur (Retrogation Coast) .

    Pantai sepanjang kurang lebih 20 km dari Kecamatan Eretan ke arah barat hingga perbatasan Kabupaten Subang, menunjukkan bahwa telah terjadi proses erosi pantai yang dicirikan oleh tebing pantai yang terjal. Menurut klasifikasi Valentin (1952), daerah semacam ini termasuk ke dalam jenis pantai mundur (retrogation coast). Sedangkan bila ditinjau dari tahapan erosinya, daerah ini berada dalam tahapan erosi aktif (Emery dan Kuhn, 1982). Ciri pantai yang sedang dalam tahapan erosi aktif, adalah terdapatnya singkapan endapan sedimen yang lebih tua dengan resistensi lebih tinggi dibanding dengan endapan di atasnya, serta mengalami proses kemunduran pantai yang menerus. Di kawasan pantai mundur, tidak dijumpai adanya muara sungai aktif karena telah terhalang dan tertutup oleh onggokan gosong pasir pantai tua yang memotong pantai. Memperhatikan gejala tersebut di atas, tampak sekali adanya dua proses yang mengontrol dan bertanggung jawab atas mundurnya garis pantai, yaitu erosi laut dan stagnasi suplai endapan aluvium.

    Abrasi terjadi di Pantai Eretan Wetan, Balongan dan sekitar Juntinyuat. Di pantai Eretan hampir mencapai badan jalan negara Jakarta-Cirebon, sedang abrasi di bagian timur telah merusak Taman Wisata Tirtamaya dan lahan sawah (DGTL 1984, 1998, 1999).

    Abrasi pantai Karawang terjadi oleh hantaman arus air laut. Hal ini terjadi pada pesisir antara Sadari-Sungai Buntu terus ke arah Timur. Dari peta topografi dan hasil tafsiran foto udara/citra lansat garis pantai utara yang terkena erosi telah mundur sejauh antara 50 hingga 300 meteran ke arah daratan, bahkan di Sadari telah menghancurkan sebagian pemukiman. Secara setempat-setempat, kegiatan seperti pembukaan hutan bakau yang berfungsi sebagai pelindung pantai untuk dijadikan daerah tambak ataupun penggalian pasir pantai untuk bahan bangunan seperti di Sadari dan Sungai Buntu akan mempercepat erosi pantai.

    Abrasi di Pantai Eretan kemungkinan besar disebabkan oleh pengaruh perputaran arus yang bergerak dari barat yang disebabkan oleh adanya pertumbuhan Delta Cipunegara (Pamanukan). Arus barat tersebut bergerak relatif kuat menyusuri Pantai Utara Jawa dari arah Jakarta, sesampainya di Delta Cipunegara terputar membalik ke arah barat lagi dan mengikis tepat di Pantai Eretan. Abrasi di pantai ini merupakan kejadian alam sebagai upaya untuk mencapai keseimbangan. Diperkirakan pantai yang terabrasi tidak stabil tetapi ada kemungkinan akan berpindah sesuai dengan pertumbuhan Delta Cipunagara, selain itu dipengaruhi pula oleh kuat lemahnya arus barat.

    Abrasi di Pantai Tirtamaya dan Pantai Krangkeng-Juntinyuat telah merusak tepat di areal Taman Wisata Pantai Tirtamaya, terlihat beberapa bangunan telah rusak dan posisinya berada di tengah laut. Berdasakan keterangan abrasi ini terjadi sudah lama tetapi puncaknya sejak tahun 1995, penyebabnya belum diketahui secara jelas apakah merupakan proses alam sebagai akibat pertumbuhan anak Delta Cimanuk atau pengaruh langsung dari penambangan pasir laut. Tetapi jika melihat dinamika gerak arus laut yang didasarkan pada teori, kemungkinan besar pertumbuhan anak Delta Cimanuk sebagai penyokong terjadinya abrasi di pantai ini, yang kemudian dipacu penambangan pasir laut.

    Pantai Krangkeng-Juntinyuat yang terabrasi tidak jauh beda penyebabnya dengan pantai Tirtamaya, tetapi skala kerusakannya lebih besar di Pantai Tirtamaya. Abrasi di pantai ini telah merusak lahan pertanian yaitu ladang, kebun, sawah dan tambak udang.

    Daerah-daerah yang mengalami pengurangan lahan daratnya (DGTL 1984) adalah : (1) Daerah Sadari, mulai dari daerah Sadari kearah timur sepanjang kurang lebih 5 km dengan pengurangan dari 0 hingga 250 meter ke arah darat, seluas 1,5 km 2. (2) Daerah Cemara dan Sungai Buntu, mulai dari 5 km sebelum Desa Cemara hingga 2 km ke arah timur Desa Sungai Buntu denga pengurangan dari 0 hingga 500 meter ke arah darat seluas 1,5 km 2. (3) Daerah Pamanukan, mulai dari 4 km sebelum Legok Sempring sampai Legok Sempring dengan besar pengurangan dari 0 hingga 600 meter ke arah darat seluas 2,5 km 2. Seperti halnya pada majunya muara/garis pantai, mundurnya garis pantai di daerah timur Muara S. Citerusan hingga ke Pondok Bali dengan kecepatan 20 m/tahun dan di daerah sebelah timur Muara Ciparagejaya hingga daerah Pasir Putih dengan kecepatan 2 m/tahun, juga diketahui berdasarkan data hasil pengukuran garis pantai dan didukung oleh informasi dari penduduk dan kenyataan lapangan dimana telah hilangnya sebuah kampung, yaitu Kampung Cibendo yang tadinya terletak di pantai dan terdapat dalam peta.

     

    Gambar 5.6 . Abrasi di Pantai Sukra Kabupaten Indramayu

    Kenyataan dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa sedimen darat/pantai yang berumur resen (Rahmat,1956; Emery dkk.,1972) dimana di daerah timur Muara Ciparage dan daerah Pondok Bali yang umumnya bersifat lempung yang berselingan dengan pasir halus. Juga tersebarnya batuan sedimen dasar laut bersifat pasiran di daerah lebih ke arah laut lepas, serta data pengamatan lapangan bahwa adanya kegiatan penggalian tanah di daerah pantai dapat menerangkan terjadinya proses kemunduran garis pantai. Proses demikian masih terus berlangsung di daerah sebelah timur Muara Ciparage yaitu karena adanya pengikisan pantai oleh pengaruh aktifitas gelombang dan adanya kegiatan penggalian tanah daerah tersebut.

    Kemunduran garis pantai di daerah Muara Karang-Legon Wetan hingga ke Pondok Bali, yang sedimen pantainya umumnya bersifat pasiran dan sangat kaya akan mineral-mineral hitam, diduga juga akibat pengaruh aktifitas gelombang yang sangat tinggi di daerah ini. Gejala pengaruh aktifitas yang menyebabkan pengikisan pantai di daerah Pondok Bali yang sedimennya bersifat lempung dengan pasir ini, diduga berlanjut kearah timur daerah penyelidikan hingga ke Muara Pancerlempeng (Sarmili dkk., 1987)

    Daerah Patimban-Eretan, mulai dari 5 km sebalah barat Patimban sampai desa Eretan dengan besar pengurangan sekitar 500 meter ke arah darat. Bahkan “groyne” yang terdapat disaluran irigasi/sungai Eretan Kulon sebagian telah hancur, seluas kurang lebih 8,75 km 2.

    Daerah Indramayu, pengurangan terjadi di sekitar Desa Kentong sebesar 0 hingga 1 km, seluas 2 km 2. Daerah Balongan, pengurangan terjadi di sekitar daerah Balongan yakni sepanjang 1 km ke arah kiri, 0 hingga 400 meter ke arah darat, seluas/sejauh 1 km 2.

    Daerah Ketapang, mulai dari Tanjung Ujung sampai 10 km ke arah barat laut, dengan besar pengurangan dari 0 hingga 500 meter ke arah darat, seluas 4,25 km 2.

     

    Gambar 5.7. Batu Penahan Laju Abrasi di Pantai Pusakanagara Kabupaten Subang

    5.8.2 Akresi

    Akresi ialah bertambahnya daratan yang berbatasan dengan laut karena adanya proses pengendapan, baik oleh material endapan yang dibawa oleh sungai maupun endapan laut. Bentuk akresi berupa delta, estuaria, dan pematang pantai. Dari hasil penyelidikan diketahui adanya muara/garis pantai yang maju ke arah laut (progadasi) serta muara/garis pantai yang mundur ke arah daratan (retrogasi) di samping beberapa tempat di mana garis pantai agak stabil. Adanya perubahan garis pantai di daerah pantai utara Jawa Barat ini secara umum sesuai dengan informasi dari hasil penyelidikan-penyelidikan terdahulu.

    Hasil interprestasi citra landsat skala 1 : 250.000 tahun 1978 dan dibandingkan denah peta topografi skala 1 : 250.000 tahun 1946 daerah-daerah dataran yang bertambah (DGTL, 1984) adalah :

    Daerah Sipucuk, mulai dari daerah Sipucuk hingga Ciderewek memanjang ke arah timur sepanjang kurang lebih 7 km dengan besar pertambahan dari 0 hingga 300 meter ke arah laut seluas kurang lebih 1,35 km 2.

    Daerah Cilamaya, mulai dari Pasir Putih hingga 5 km sebelum Legok Sempring dengan besar pertambahan dari 0 hingga 5 km ke arah laut seluas kurang lebih 15,5 km 2.

    Daerah Pamanukan, mulai dari Tanjung Babos hingga 2,5 km sebelum Desa Patimban dari 0 hingga 5 km kearah laut, seluas kurang lebih 10 km 2.

    Daerah Indramayu, penambahan terjadi pada daerah-daerah di mana sungai Cimanuk bermuara, dengan besar pertambahan dari 0 hingga 7 km ke arah laut , seluas kurang lebih 45 km 2.

    Majunya garis pantai dan berkembangnya muara sungai ke arah lautan dengan kecepatan 750 meter /tahun di daerah antara Muara Ciasem hingga muara Baru Cilamaya serta dengan kecepatan 2 m/tahun Muara Ciparage Jaya dapat dijelaskan seperti di bawah ini.

    Terjadinya pendangkalan di muara sungai disebabkan tingginya kandungan material, terdiri dari aluvial dan aluvial pasiran yang berasal dari daerah-daerah selatan daerah penyelidikan (Direktorat Geologi,1963), yang terbawa oleh sungai dan dikarenakan rendahnya gradien sungai-sungai itu sendiri serta melemahnya arus sungai di daerah muara mengakibatkan terjadinya banjir sungai terutama pada musim hujan, sering disertai dengan hanyutan pohon-pohon atau cabang-cabang pohon (Suriadarma,1981).

    Pendangkalan-pendangkalan yang terjadi karena adanya banjir rutin dengan frekwensi yang cukup tinggi menghasilkan endapan limbah banjir tahun demi tahun dan berkembangnya muara-muara sungai yang cukup jauh kearah laut. Penjelasan ini menerangkan terdapatnya sedimen darat yang bersifat lempungan hingga pasiran dan sedimen pantai yang umumnya bersifat lempungan hingga lanauan di daerah muara/pantai yang maju.

    Seperti diketahui, tumbuhnya atau dipercepatnya pertumbuhan darat adalah ditentukan oleh kondisi lingkungan pengendapannya, seperti adanya aktifitas gelombang dan arus laut (Hehuwat, 1974). Dengan demikian dapat diterangkan adanya perbedaan dalam kecepatan majunya daratan.

    Perbedaan kecepatan majunya garis pantai yang jauh lebih besar di daerah Muara Ciasem–Muara Baru Cilamaya daripada di daerah Muara Ciparage, serta gejala majunya garis pantai di daerah Pondok Bali (Muara Karang Legon Wetan), selain akibat adanya pendangkalan di muara, diduga karena ada dan tumbuhnya gosong-gosong pasir yang menutupi sebagian Teluk Ciasem, dan juga berada di daerah Muara S. Citerusan hingga 2,5 km ke arah barat. Arah dan bentuk gosong pasir tersebut merupakan indikasi yang cukup baik akan adanya arus laut ‘longshore current’ dari arah timur ke barat (Hunter et al., 1984).

    Warna air laut yang berwarna hijau dibeberapa tempat, yaitu di daerah utara Muara Ciasem, mencirikan adanya sedimen berbutir halus yang tersuspensi dari material sungai berasal dari daratan (‘run off') dan adanya erosi oleh gelombang laut pada pantai, seperti yang banyak terjadi di daerah utara Laut Jawa (Emery et al., 1972).

    Faktor lain yang mempercepat majunya garis pantai adalah berkembangnya pertambakan-pertambakan di daerah ini dengan sistem pengairan-pengairan yang dibuat untuk keperluan pertambakan tapi menimbulkan pengendapan-pengendapan material-material dari sungai atau laut di sekitar pertambakan-pertambakan tersebut. Hal ini terjadi juga di daerah-daerah pantai utara Jawa Barat lainnya seperti yang dilaporkan oleh penyelidik-penyelidik terdahulu (Kris dkk., 1987; Kusnida dkk., 1986)

    Sebagai tambahan, dapat dilihat bahwa pengembangan pantai yang terjadi di muara sungai besar hanya terjadi di daerah antara Muara Baru Cilamaya dengan Muara Ciasem. Bahwa perkembangan pematang pantai hampir selalu terletak di bagian timur muara sungai besar sebagai akibat pengaruh musim barat yang dominan. Agak stabilnya pantai di daerah sebelah timur Muara Ciasem ke timur hingga ke daerah Pondok Bali disebabkan karena terlindungnya daerah tersebut oleh hutan-hutan bakau (mangrove).

    Akresi atau pertumbuhan pantai telah membentuk Delta Cimanuk yang dari tahun ketahun semakin meluas, yang berkembang mulanya ke arah barat yang kemudian berpindah ke arah timur. Pembuatan Kanal Cimanuk ke arah timur laut telah menyebabkan terbentuknya anak Delta Cimanuk. Munculnya Delta Cimanuk ini telah menguntungkan karena bertambahnya lahan pantai, tetapi disisi lain mengakibatkan pendangkalan di muara-muara sungai, dermaga/pelabuhan tempat pendaratan kapal nelayan dan kapal ikan.

    Muara-muara sungai yang mengalami pendangkalan antara lain Sungai Cijengkol, Kali Cemara, Kali Rambatan dan yang terbesar terjadi di muara Sungai Cimanuk yang telah terbagi menjadi Kali Anyar dan S. Cimanuk serta anak sungainya yang mengalir ke arah timur laut, yaitu Kali Karangsong. Proses akresi ini ditandai dengan adanya pematang-pematang pantai tua yang arahnya sejajar dengan garis pantai sekarang, pematang pantai ini dulunya merupakan garis pantai lama.

    5.8.3 Intrusi Air Asin

    Pengambilan air bawah tanah yang intensif dapat menimbulkan dampak negatif pada lingkungan, yaitu terjadinya krisis air bawah tanah, penurunan muka air tanah, penurunan muka tanah, intrusi air laut dan oenecaran air bawah tana. Di daerah dataran pantai kemungkina terbesar dari dampak pengambilan air bawah tanah adalah intrusi air laut, namun ada kalanya di daerah dataran pantai air bawah tanahnya memang bersifat asin atau payau secara alami, sehingga tidak dimungkinkan untuk dimanfaatkan bagi keperluan rumah tangga.

    Seperti terlihat pada Peta 4, sebaran air bawah tanah yang bersifat asin atau payau di wilayah cekungan Bekasi-Karawang bervariasi antara 2.5 km hingga 20 km dari garis pantai, daratan terjauh yang air bawah tanahnya asin adalah Desa Talagasari, Kecamatan Telagasari Kabupaten Karawang, sedangkan wilayah dengan jarak terkecil terdapat di Desa Jayamulya dan Gebangjaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang.

    Cekungan Pamanukan, di Ciasem batas air asin sejauh 9 km dari garis pantai, di Binong batas air asin sejauh 18 km dari pantai, dan di Patrol batas air asin sejauh 3 km dari garis pantai. Cekungan Indramayu, pada lokasi Kandanghaur, batas air asin sejauh 7 km dari garis pantai, batas air bawah tanah payau/tawar sejauh 17 km dari garis pantai. Di Lohbener batas air asin sejauh 17 km dari garis pantai, sedangkan batas air bawah tanah payau/tawar sejauh 18 km dari garis pantai.

    Cekungan Cirebon, di Jatibarang batas air tanah asin sejauh 8 km dari garis pantai, sedangkan batas air bawah tanah payau/tawar sejauh 19 km. Di Kota Cirebon air bawah tanah bersifat tawar. Di Losari batas air bawah tanah asin sejauh 11 km dari garis pantai, sedangkan batas air bawah tanah payau/tawar sejauh 14 km dari garis pantai (Dinas Pertambangan dan Energi, Propinsi Jawa Barat, 2006).

    Secara spasial, kondisi oseanografi perairan utara Jawa Barat termasuk akresi, abrasi dan instrusi air asin dapat dilihat pada Peta 4. Oseanografi Pesisir Pantai Utara Jawa Barat

  • SUMBERDAYA AIR DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI

    Seiring dengan pertambahan penduduk dan berbagai aktivitas perekonomian, sumberdaya air menjadi bernilai penting karena ketersediaannya berfluktuasi. Pada musim hujan terjadi banjir sedangkan pada musim kemarau terjadi kekeringan. Kompetisi dalam pemanfaatan sumberdaya air terutama pada musim kemarau perlu dikendalikan agar tidak menjadi potensi konflik diantara para stakeholder. Demikian juga dengan perlunya pengelolaan daerah aliran sungai dalam hal pengendalian banjir dan sumber pencemaran ke lingkungan laut. Untuk itu pemerintah Indonesia telah melahirkan Undang-Undang no 7 tahun 2004 tentang sumberdaya air yang diundangkan pada tangal 18 Maret 2004. Menurut undang-undang ini,sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya. Selanjutnya pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.

    6.1 Daerah Aliran Sungai (DAS)

    Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

    Pengelolaan wilayah pesisir mencakup tidak saja mencakup wilayah laut dan daratan sekitar pantai, tetapi juga harus memperhatikan daerah aliran sungai sebagai masukan materi baik berupa aliran air tawar, sedimen, dan berbagai limbah dari berbagai akitivitas di sekitar DAS yang akhirnya masuk ke lingkungan laut. Sungai sangat penting dalam pengelolaan wilayah pesisir, karena fungsi-fungsinya untuk transportasi, sumber air bagi masyarakat, perikanan, pemeliharaan hidrologi, rawa dan lahan basah. Sebagai alat angkut, sungai membawa sedimen (lumpur, pasir), sampah, limbah dan zat hara, melalui berbagai macam kawasan lalu akhirnya ke laut. Apabila sedimen yang terbawa aliran cukup banyak di pesisir akan tercipta dataran berlumpur, pantai berpasir, dan bentuk pantai lainnya. Seandainya debit sungai berkurang dan beban penggunaannya makin banyak, maka daya dukung sungai makin menurun sampai titik resiko yang

    merugikan untuk kegiatan produksi atau bahkan membahayakan kesehatan masyarakat dan lingkungan. Untuk itu penyatuan pengelolan pesisir dan DAS dikenal dengan istilah Integrated River Basin Coastal and Ocean Management (IRCOM).

    Wilayah Provinsi Jawa Barat bagian utara mempunyai banyak aliran sungai. Beberapa sungai besar yang bermuara di pantai utara Jawa Barat adalah : Sungai Citarum, Sungai Cimanuk dan Sungai Cisanggarung. Sungai-sungai utama antara lain Sungai Bekasi/Kali Bekasi di Kabupaten Bekasi; Sungai Cilamaya di Kabupaten Karawang; Sungai Ciasem, Sungai Cipunagara di Kabupaten Subang; Sungai Cilalanang, Sungai Cimanuk di Kabupaten Indramayu; Sungai Ciwaringin, Sungai Cisanggarung, Kali Bondet dan Bangkaderes di Kabupaten Cirebon. Menurut pembagian satuan wilayah sungai oleh Direktorat Sumberdaya Air Departemen Pekerjaan Umum tahun 2006, sungai sungai tersebut di atas termasuk dalam 3 Satuan Wilayah Sungai (SWS), yaitu (1) Ciliwung- Cisadane; (2) Citarum; (3) Cimanuk-Cisanggarung.

     6.2 Satuan Wilayah Sungai (SWS)

    Satuan Wilayah Sungai (SWS) adalah suatu batas manajemen administrasi yang terdiri dari satu atau beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS). Menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumberdaya air, wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km 2. Wilayah Pantai Jawa Barat bagian utara mencakup 3 SWS, yaitu: 1) SWS Citarum yang mempunyai 4 sungai utama yaitu Sungai Citarum, S. Cipunegara, S. Cilamaya, S. Ciasem; 2) SWS Cimanuk-Cisanggarung yang mempunyai 5 sungai utama, yaitu: S Cimanuk, S. Cisanggarung, S. Citempel, S. Ciluncat, S. Bondet; dan 3) SWS Ciliwung Cisadane, dalam hal ini yang bermuara di Kabupaten Bekasi yaitu S. Bekasi.

    6.2.1 SWS Citarum

    SWS Citarum di wilayah pantai Jawa Barat bagian utara merupakan bagian dari SWS Citarum Hilir yang mempunyai luas 6.154 km 2 (sekitar 30 % dari luas SWS Citarum). SWS ini melingkupi kabupaten-kabupaten yang merupakan wilayah pantai Jawa Barat bagian utara terdiri dari Kabupaten Karawang (1.985 km 2), Indramayu (648 km 2), dan Subang (2.068 km 2), dan wilayah yang bukan termasuk dalam kawasan pantai Jawa Barat bagian utara, yaitu Jakarta , Bogor , Purwakarta, Cianjur dan Bandung .

    Curah hujan tahunan di SWS Citarum rata-rata sebesar 2.358 mm, sedangkan aliran rata rata di bagian hilir mencapai 13,0 milyar meter kubik per tahun. Dengan debit aliran sebesar ini SWS Citarum dapat dimanfaatkan untuk keperluan tenaga listrik, pertanian, industri dan sebagainya melalui 3 bendungan besar yang dibangun di sepanjang aliran sungai Citarum (Bendungan Saguling, Cirata dan Jatiluhur).

    Menurut data Direktorat Sumberdaya Air Departemen Pekerjaan Umum (http://sda.pu.go.id/SDA/sdainfo_sungai.asp), terdapat 10 sungai utama yang termasuk di SWS Citarum, yaitu Sungai Citarum, Cilesung, Cijalu, Jati, Cilamaya, Blanakan, Ciasem, Bantargede, dan Cipunegara. Informasi karakterisitik dan luas DAS Citarum selengkapnya tentang disajikan pada Tabel 6.1 dan 6.2 berikut:

    Tabel 6.1 . Karakteristik Sungai pada Satuan Wilayah Sungai (SWS) Citarum

    Nama SungaiLuas DPS (Km²)Panjang (Km)Lebar (m)Anak SungaiKelere-nganDebit Banjir (m³/detik)
    Citarum 6,080.80 268.60 75.00 2,235 0.00680 1,131.00
    Cilesung 115.70 36.50 15.00 10 0.00060 422.00
    Cijalu 454.44 43.00 25.00 57 0.00220 459.00
    Jati 330.08 76.10 10.00 71 0.00660 610.00
    Cilamaya 329.80 81.60 25.00 96 0.01840 632.00
    Blanakan 64.62 15.50 10.00 6 0.00130 275.00
    Ciasem 584.80 89.80 40.00 167 0.01000 663.00
    Bantargede 72.62 12.00 10.00 2 0.00070 242.00
    Cipunegara 1,277.78 148.70 50.00 504 0.01040 498.00

    Sumber: http://sda.pu.go.id/SDA/sdainfo_sungai.asp

     

    Tabel 6.2 . Luas DAS Citarum

    NoDAS/ Sub DAS CITARUMKabupatenLuas (Ha)
    1. Citarum Bandung, Cianjur, Purwakarta, Karawang 811.944,00
    2. Cipunagara Subang, Purwakarta 129.850,50
    3. Ciasem Subang 101.162,50
    4. Cibuni Sukabumi, Cianjur 140.608,25
    5. Cilamaya Subang, Karawang 78.024,25
    6. Cisadea Cianjur 51.704,00
    7. Cisokan Cianjur 24.032,00
    8. Ciujung Cianjur 17.500,25
    9. Cipandak Cianjur 18.485,50
    10. Cidamar Cianjur 30.201,75
    11. Cilaki Cianjur 44.766,75
      Jumlah   1.448.654,50

    Sumber http://www.bpdas-citarum-Ciliwung.net

    Vegetasi yang ada sebagian besar merupakan hutan dengan luas 2.445 km 2, sawah beririgasi dengan luas 2.801 km 2, sawah tadah hujan dengan luas 386 km 2. Untuk daerah lahan kering (up land field) terdapat kebun/lahan (garden/dryfield) kering seluas 1.002 km 2, shifting cultivation seluas 809 km 2, grassland seluas 185 km 2, dan situ-situ seluas 320 km 2. Sisa lahan selebihnya non vegetasi berupa lahan permukiman, perkotaan dan industri.

    6.2.2 SWS Cimanuk-Cisanggarung

    SWS Cimanuk–Cisanggarung mencakup wilayah administratif Kabupaten Garut, Sumedang, Majalengka, Indramayu, Cirebon . Sungai-sungai utama yang termasuk SWS ini adalah Sungai Cimanuk, Sungai Cisanggarung, Sungai Ciluncat, Sungai Citempel, dan Kali Bondet. Informasi karakterisitik selangkapnya tentang sungai-sungai ini disajikan pada Tabel 6.3 berikut:

     

    Tabel 6.3 . Karakterisitik Sungao-sungai di SWS Cimanuk-Cisanggarung

    Nama SungaiLuas DPS (Km²)Panjang (Km)Lebar (m)Anak SungaiKelere-nganDebit Banjir (m³/ detik)
    CILUNCAT 179.62 41.40 15.00 5 0.00170 450.00
    CITEMPEL 1,150.20 79.10 20.00 67 0.00530 618.00
    CIMANUK 3,557.10 258.40 60.00 774 0.00590 1,125.00
    CISANGGA-RUNG 834.30 103.60 80.00 244 0.00770 712.00
    BONDET 9.80 10.50 10.00 0 0.00140 226.00

    Sumber: http://sda.pu.go.id/SDA/sdainfo_sungai.asp

    Sedimentasi di lokasi SWS ini cukup tinggi. Data dari Balitbang PU menyebutkan bahwa Lebih kurang sebanyak 25 ton atau 4,2 juta m 3 angkutan sedimen per tahun terbawa bersama aliran permukaan. Selanjutnya sedimen ini mengendap membentuk delta di muara Sungai Cimanuk di Kabupaten Indramayu.

    SWS Cimanuk mempunyai luas 4.325 km 2. Wilayah kabupaten yang termasuk dalam SWS Cimanuk meliputi Kabupaten Bandung seluas 135 km 2, Kabupaten Garut 893 km 2, Kabupaten Majalengka seluas 909 km 2, Kabupaten Sumedang seluas 1.092 km 2, Kabupaten Indramayu seluas 1.238 km 2 serta Kabupaten Subang seluas 58 km 2. Curah hujan tahunan yang terjadi di DAS Cimanuk rata-rata sebesar 2.070 mm. Potensi aliran rata rata mencapai kapasitas sebesar 4,0 milyar meter kubik per tahun.

     

    Gambar 6.1 . Hilir Sungai Cimanuk di Indramayu

    Vegetasi yang ada sebagian besar merupakan hutan dengan luas 1.512 km 2, sawah beririgasi dengan luas 1.225 km 2, sawah tadah hujan dengan luas 305 km 2. Untuk daerah lahan kering (uplandfield) terdapat kebun/lahan kering (garden/dryfield) seluas 303 km 2, shifting caltivation seluas 696 km 2, grassland dan fallow land seluas 174 km 2 dan situ-situ seluas 44 km 2. Sisa lahan selebihnya berupa lahan terbuka untuk pemukiman diperkotaan dan industri.

    SWS Cisanggarung termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Barat dan mempunyai luas 2.560 km 2. Kabupaten yang termasuk dalam SWS Cisanggarung di wilayah pantai Jawa Barat bagian utara yaitu Indramayu (221 km 2), Cirebon (1105 km 2), Kota Cirebon (33 km 2) dan yang bukan merupakan pantai Jawa Barat bagian utara yaitu Kuningan (754 km2), Majalengka (73 km2) dan Brebes (374 km2).

    Curah hujan tahunan yang terjadi di SWS Cisanggarung rata-rata sebesar 2.032 mm. Potensi aliran rata rata mencapai kapasitas sebesar 2,0 milyar meter kubik per tahun.

    Vegetasi yang ada sebagian besar merupakan hutan dengan luas 680 km 2, sawah beririgasi dengan luas 904 km 2, sawah tadah hujan dengan luas 212 km 2. Untuk daerah bagian atas (upland field) terdapat kebun/lahan kering (garden/dryfield) seluas 308 km 2, shifting cultivation seluas 262 km 2, grass land dan fallow land seluas 124 km 2, dan situ-situ seluas 65 km 2. Sisanya merupakan lahan terbuka untuk pemukiman diperkotaan dan industri.

    6.2.3 SWS Ciliwung Cisadane

    Dari sejumlah DAS yang termasuk SWS Ciliwung Cisadane hanya DAS Kali Bekasi yang bermuara di wilayah Provinsi Jawa Barat. Luas DAS Kali Bekasi di wilayah administrasi Kabupaten Bogor, Bekasi, DKI luas 178.006,00 DAS Kali Bekasi berhulu di perbukitan sebelah timur Bogor dan memiliki anak sungai antara lain Kali Cikeas, Kali Cileungsi, Kali Bekasi, Kali Baru, Saluran Jatiluhur, Kali Bulevar Raya, Kali Pekayon, Saluran Bumi Satria Kencana, Saluran Rawa Tembaga, Saluran Rawalumbu dan Kali Sasak Jarang. DAS Kali Bekasi ini berpengaruh terhadap bahaya banjir di Bekasi dan Jakarta bagian timur. Kali Bekasi memiliki Luas DPS 1,354.78 Km 2, Panjang 97.50 Km, Lebar 60.00 m, jumlah anak sungai 127 buah dengan debit banjir 691 m 3/detik (http://sda.pu.go.id/SDA/sdainfo_sungai.asp).

    Secara spasial, Satuan Wilayah Sungai di pesisir utara Jawa Barat dapat dilihat pada Peta 5. Satuan Wilayah Sungai Pesisir Pantai Utara Jawa Barat

    6.3 Lahan Kritis dan Tingkat Erosi

    Stabilitas lahan di DAS sangat berpengaruh pada potensi sumberdaya air baik kuantitas maupun kualitasnya. Stabilitas lahan ini dinyatakan dalam kepekaan tanah terhadap erosi. Keadaan Kepekaan tanah terhadap erosi di daerah pantai Jawa Barat bagian utara bervariasi dari sangat rendah sampai agak tinggi. Pada kepekaan tanah yang agak tinggi menunjukkan tanah ini sangat mudah hancur terhadap daya penghancur dari luar menjadi partikel-partikel lebih halus, kemudian partikel ini di angkut oleh air permukaan sehingga terjadi erosi. Kecepatan terjadinya erosi ini akan dipercepat dengan kemiringan lereng yang terjal. Makin terjal lereng makin besar erosi yang terjadi pada tanah yang sangat peka. Beberapa lahan yang mempunyai kepekaan tanah yang tinggi sangat mudah menjadi lahan kritis apabila tidak dikelola dengan benar.

    Pada tanah-tanah yang mempunyai kepekaan erosi yang sedang sampai agak tinggi dengan lereng kurang dari 8 % masih baik untuk budidaya tanaman semusim, sedangkan pada lereng berkisar 8 % sampai 15 % merupakan marginal untuk budidaya tanaman pangan (semusim) dan pada lereng lebih dari 15 % sebaiknya untuk budidaya tanaman tahunan (tanaman keras). Pada tanah yang mempunyai kepekaan erosi yang sedang sampai agak tinggi dengan lereng 30–45 %, kemungkinan masih dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman perkebunan/tahunan dengan tindakan konservasi tanah sangat mutlak diperlukan, antara lain tanah selalu tertutup tanaman penutup (cover crops) dan pembuatan terasering.

     

    6.4 Sumberdaya Air Permukaan

    Air permukaan adalah air sungai, air rawa dan juga danau/waduk. Sungai utama yang ada di pantai utara Jawa Barat adalah Sungai Citarum, Sungai Cimanuk dan Sungai Cisanggarung yang dimanfaatkan untuk pertanian dan untuk keperluan sehari-hari penduduk yang tinggal di sepanjang alur sungai. Daerah rawa yang ada di pantai Jawa Barat bagian utara mulai dari Kabupaten Bekasi sampai Cirebon masing-masing adalah Kabupaten Bekasi daerah rawa ada di Muara Gembong, Kabupaten Karawang ada di daerah Pakisjaya, Karangjati (hilir sungai Cijalu), Kabupaten Subang ada di hilir Sungai Ciasem dan hilir Sungai Cipunegara.

    Curah hujan merupakan sumber air untuk permukaan. Rata-rata curah hujan tahunan di daerah Jawa Barat bagian utara berkisar antara 1.792 mm sampai dengan 4.728 mm. Rata-rata curah hujan bulanan terendah umumnya terjadi pada bulan September, kecuali Subang dan Purwakarta pada bulan Agustus; sedangkan rata-rata curah hujan bulanan tertinggi umumnya terjadi pada bulan Januari, kecuali Sumedang, Majalengka, Kuningan dan Ciater yang masing-masing terjadi pada bulan Desember, Pebruari, Maret dan April. Fluktuasi debit sungai tergantung dari curah hujan, tetapi sungai-sungai ini pada umumnya telah dimanfaatkan untuk perairan. Ini terlihat dengan adanya bendungan (dam) pada sungai-sungai tersebut. Bahan-bahan yang diangkut melalui sungai-sungai tersebut mencerminkan kualitas sifat-sifat kimia dari bahan yang terdapat di daerah atasnya.

    Gambar 6.2 . Muara Bondet Kabupaten Cirebon

    Penilaian kualitas air dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat kimia air sungai untuk pertumbuhan tanaman, yang ditentukan oleh nilai salinitas dan sodisitas atau kandungan kation dan anion yang bersifat meracuni tanaman. Salinitas merupakan penilaian terhadap kandungan garam secara kuantitatif yang ditentukan dengan mengukur Daya Hantar Listrik (DHL) yang dinyatakan dalam mmhos/cm pada suhu 25 oC, sedangkan sodisitas adalah penilaian terhadap ion natrium berkelebihan yang mungkin menggangu kehidupan tanaman dan sifat-sifat fisik tanah. Penilaian bahaya natrium dalam air menggunakan perbandingan adsorpsi natrium (SAR).

    Tabel 6.4 . Nilai Kualitas Air pada beberapa sungai/saluran irigasi di Pantai Jawa Barat Bagian Utara

    Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Jawa Barat, 2004

    Keterangan: C1 : Kelas salinitas sangat baik
    C2 : Kelas salinitas cukup baik
    C4 : Kelas salinitas sangat jelek
    S1 : Kelas sodisitas sangat baik

    Air sungai cukup baik untuk pertumbuhan tanaman jika masih mempunyai kisaran DHL antara 0,07-1,1 mmhos/cm pada suhu 25 ° C, nilai SAR kurang dari 10 dan kemasaman kurang lebih pada pH 7,0. Kualitas air untuk parameter tertentu berdasarkan hasil analisis kualitas air pada beberapa sungai dapat dilihat bahwa:

    a. Sungai Citarum

    Di lima lokasi pemantauan sepanjang Sungai Citarum, yaitu Bendung Wangisagara, Outlet Waduk Jatiluhur, Outlet Bendung Curug dan Jembatan Tanjungpura, tidak memenuhi persyaratan untuk parameter Mn, Zn, Fenol dan DO.

    b. Sungai Cileungsi/Kali Bekasi

    Di tiga lokasi pemantauan sepanjang Sungai Cileungsi/Kali Bekasi, yaitu Cileungsi, Intake PAM Bekasi dan Babelan tidak memenuhi persyaratan untuk parameter Mn dan Zn.

    c. Sungai Cimanuk

    Di empat lokasi pemantauan sepanjang Sungai Cimanuk, yaitu Bendung Cimanuk, Jembatan Sasak Beusi Cibatu, Bendung Rentang dan Intake PAM Jatibarang tidak memenuhi persyaratan untuk parameter Mn, Zn, Fenol dan NO 2-N.

    Gambaran kualitas air secara umum memberikan kecenderungan menjadi lebih jelek sehingga perlu mendapatkan perhatian pengelolaannya. Secara spasial, sumberdaya air permukaan di pesisir utara Jawa Barat dapat dilihat pada Peta 6. Sumberdaya Air Permukaan Pesisir Pantai Utara Jawa Barat

    Gambaran kualitas air secara umum memberikan kecenderungan menjadi lebih jelek sehingga perlu mendapatkan perhatian pengelolaannya. Secara spasial, sumberdaya air permukaan di pesisir utara Jawa Barat dapat dilihat pada Peta 6. Sumberdaya Air Permukaan Pesisir Pantai Utara Jawa Barat

    6.5 Sumberdaya Air Tanah

    6.5.1 Air Tanah Bebas

    Air tanah bebas atau disebut juga air tanah dangkal dijumpai sebagai air sumur gali. Air tanah ini banyak dimanfaatkan oleh penduduk untuk berbagai keperluan dengan kedalaman sumur umumnya antara 1 – 25 meter, semakin ke arah selatan semakin dalam dapat mencapai 40 meter. Di daerah Bekasi hingga Karawang akuifer tak tertekan terdapat pada kedalaman 0,5 sampai 40 meter. Air tanah bebas masih merupakan sumber utama air bersih bagi sebagian besar penduduk dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemanfaatannya dilakukan dengan cara pembuatan sumur gali dan sumur pantek pada kedalaman kurang dari 20 meter di bawah permukaan, umumnya terdapat pada lapisan pasir, pasir kerikilan, tufa pasiran dan pasir lanauan. Air tanah bebas di dataran aluvial terdapat dalam lapisan pasir, pasir lempungan, pasir kerikilan dan pasir lempungan. Untuk daerah Cirebon dan sekitarnya biasanya di buat sumur kurang dari 25 m.

    6.5.2 Kualitas Air Tanah Bebas

    Mutu air tanah bebas bervariasi dari baik hingga jelek, asin rasa airnya hingga tawar, berwarna keruh hingga jernih. Kesadahannya berkisar antara 8,5 – 16,7, pH sekitar 6,7 – 11,2, sisa kering 353 – 580, sisa pijar 252 – 420, kadar kandungan ion klorida berkisar 25,5 – 6.685 mg/l, SO 4 antara 40,5 – 246,9 mg/l.

    Khususnya untuk keperluan rumah tangga sehari-hari, kandungan air tanah bebas di dataran aluvial terkecuali daerah-daerah sekitar pantai, pemanfaatannya masih dapat dikembangkan. Sedangkan untuk daerah-daerah yang terletak sekitar 1 – 3 km dari garis pantai, penggunaan air tanah bebasnya sangat terbatas sekali disebabkan asin hingga payau rasa airnya. Air tanah bebas di daerah perbukitan, pemanfaatannya masih sangat terbatas dan jarang sekali, disebabkan kesukaran dalam penggaliannya dan sangat terbatas kandungan airnya.

    6.5.3 Air Tanah Tertekan

    Berdasarkan peta sebaran air asin, air bawah tanah hasil pemantauan Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Jawa Barat tahun 2004, di wilayah pantai utara Jawa Barat terdapat 4 cekungan air bawah tanah tidak tertekan yaitu: (1) Cekungan Bekasi-Karawang; (2) Cekungan Pamanukan; (3) Cekungan Indramayu dan; (4) Cekungan Cirebon (lihat Peta).

    Berdasarkan nilai daya hantar listrik, karakteristik air bawah tanah di wilayah pesisir utara Jawa Barat adalah sebagai berikut:

    Di Bekasi dan karawang batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 25 km dari pantai dan batas air asin sejauh 12 km dari pantai

    Di Ciasem Kabupaten Subang, batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 10 km dari pantai dan batas air asin sejauh 9 km dari pantai. Di Binong batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 22 km dari pantai dan batas air asin sejauh 18 km dari pantai. Di Patrol batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 5 km dari pantai dan batas air asin sejauh 3 km dari pantai

    Di Kandanghaur batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 17 km dari pantai dan batas air asin sejauh 7 km dari pantai. Di Lohbener batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 18 km dari pantai dan batas air asin sejauh 17 km dari pantai

    Di Jatibarang batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 19 km dari pantai dan batas air asin sejauh 8 km dari pantai. Di Kota Cirebon air bawah tanah bersifat tawar. Di Losari air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 14 km dari pantai dan batas air asin sejauh 11 km dari pantai.

    Sedangkan berdasarkan kandungan Klorida, karakteristik air bawah tanah wilayah pesisir utara Jawa Barat adalah sebagai berikut:

    Di Bekasi batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 12 km dari pantai dan batas air asin sejauh 7 km dari pantai. Di Karawang Di Bekasi dan Karawang batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 21 km dari pantai dan batas air asin sejauh 19 km dari pantai

    Di Ciasem Kabupaten Subang, batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 23 km dari pantai dan batas air asin sejauh 15 km dari pantai. Di Binong batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 35 km hingga selatan Pagaden, dan batas air asin sejauh 26 km dari pantai di selatang Binong. Di Patrol batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 1 km dari pantai dan batas air asin sejauh 0,5 km dari pantai.

    Di Kandanghaur batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 8 km dari pantai dan batas air asin sejauh 6 km dari pantai. Di Loh Bener batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 17 km dari pantai dan batas air asin sejauh 13 km dari pantai.

    Di Krangkeng batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 11 km dari pantai dan batas air asin sejauh 9 km dari pantai di timur Indramayu. Di Gebang mekar- Losari batas air bawah tanah payau/tawar terdapat sejauh 3 m dari pantai dan batas air asin sejauh 2 km dari pantai.

    Selanjutnya berdasarkan pengukuran Geolistrik, karakteristik air bawah tanah wilayah pesisir utara Jawa Barat adalah sebagai berikut:

    Sebaran vertikal air asin di cekungan Bekasi – Karawang kedalaman akuifer 10 – 40 m air asin sampai sejauh 11 – 17 km dari pantai, pada akuifer lebih dalam dari 100 m asin semua hingga 26 – 29 km dari pantai.

    Sebaran vertikal air asin di cekungan Pamanukan kedalamn akuifer 14 - 46 m air asin sampai sejauh 19,5 km dari pantai, pada akuifer lebih dalam dari 80 m asin semua hingga 37 km dari pantai.

    Sebaran vertikal air asin di cekungan Indramayu kedalaman akuifer 8 - 31 m air asin sampai sejauh 11,5 km dari pantai, pada akuifer lebih dalam dari 90 m asin semua hingga 17,5 km dari pantai.

    Sebaran vertikal air asin di cekungan Cirebon bagian utara kedalaman akuifer 5 - 35 m air asin sampai sejauh 13,7 km dari pantai, pada akuifer lebih dalam dari 70 m asin semua hingga Jatibarang. Dibagian kota Cirebon dekat pantai akuifer 12 - 28 m air asin sampai sejauh 13,3 km dari pantai, pada akuifer lebih dalam dari 74 m asin semua hingga 13,3 km dari pantai. Di losari akuifer 10 - 40 m air asin sampai sejauh 5,5 km dari pantai, pada akuifer lebih dalam dari 90 m asin semua hingga 11,22 km dari pantai.

    Potensi air tanah ini harus dikelola secara bijaksana agar pemanfaatannya dapat berkelanjutan dan menghindari semakin jauhnya intrusi air laut ke arah darat. Pemerintah daerah berperan dalam pengaturan potensi air tanah ini sehingga dapat mengalokasikan pemanfaatannya untuk berbagai keperluan seperti industri, pemukiman, pelabuhan dn sebagainya. Air bawah tanah pada kedalaman akuifer kurang dari 20 meter sebaiknya dialokasikan untuk keperluan rumah tangga dengan debit pemompaan 0,5 l/det. Juga pengaturan kedalam pompa sumur bor harus diatur sesuai dengan kedalaman efektif akuifer di masing-masing cekungan serta batas debit maksimum air tanah yang dapat dipompa. Indikasi terdapatnya air tanah dalam tawar adalah terdapatnya sumur bor dalam yang dibuat memancarkan air sendiri. Di daerah pesisir Bekasi hingga Karawang mempunyai potensi air tanah tertekan dengan akuifer yang beragam dari 46 sampai 140 meter, di sekitar Kedungdawa-Kedikan-Gabus-Tibereng-Losarang merupakan akumulasi air tanah dalam tawar yang cukup besar, serta di sekitar Jatibarang-Krasak-Amanggir-Kaplongan-Jengkok.


     

    Gambar 6.3. Salah Satu Saluran Pembuangan Air di Kawasan Pantai Balongan-Indramayu

    Air tanah tertekan juga dijumpai di daerah pesisir Cirebon dan sekitarnya terdapat dalam batuan berumur Kwarter. Di Palimanan, Arjawinangun, Ciwaringin dengan potensi akuifer diperkirakan penyebarannya tidak terus menerus baik secara vertikal maupun horizontal.

    6.5.4 Kualitas Air Tanah Terteka

    Untuk daerah sekitar Cirebon , Muara dan Arjawinangun berdasarkan hasil analisa contoh air tanah tersebut umumnya bermutu buruk dan tidak memenuhi persyaratan baku air minum. Sedangkan untuk daerah lainnya, mutu air tanahnya cukup baik. Kualitas air tanah ini umumnya cukup baik, air bening, pH berkisar antara 6,43 – 8,53, kandungan CI di bagian selatan jalur jalan propinsi umumnya rendah yaitu antara 11,2 – 582,6 mg/liter. Beberapa contoh air tanah dangkal yang diambil di desa Lohbener, Juntinyuat, Sindang dan Krangkeng menunjukkan kandungan CI cukup tingi antara 603 – 3.120 mg/liter. Unsur lainnya yaitu nitrit umumnya tidak ada, hanya setempat di desa sekitar Jatibarang mencapai 3 mg/liter, dan unsur nitrat berkisar antara 0,5 – 2,8 mg/liter, setempat mencapai 111,0 yaitu Desa Krangkeng.

    Kualitas air tanah disebaran pematang pantai lama dan sungai purba cukup baik, air sumur gali yang dijumpai air bening dan air tawar, pada kedalaman < 3 meter. Sebaran pematang pantai lama dan sungai purba dapat dicirikan dari sebaran pemukiman saat ini. Secara spasial, sumberdaya air tanah di pesisir utara Jawa Barat dapat dilihat pada Peta 7. Sumberdaya Air Tanah Pesisir Pantai Utara Jawa Barat

    6.6 Kawasan Rawan Banjir

    Wilayah pantai utara Jawa Barat yang merupakan dataran rendah dan tempat bermuaranya beberapa sungai yang termasuk DAS Cisanggarung, Cimanuk dan Citarum memiliki potensi terjadinya banjir di setiap musim penghujan. Berdasarkan peta rawan banjir provinsi Jawa Barat (LREP, 1999), hampir seluruh kabupaten dan kota di wilayah pesisir pantai utara Jawa Barat memiliki kategori rawan banjir. Selanjutnya berdasarkan peta digital lahan sawah rawan banjir yang dikeluarkan oleh Balai Penelitian Tanah, Badan Litbang Pertanian Departemen Pertanian, mulai dari Kabupaten Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon, maka sebagian besar sawah diwilayah kabupaten tersebut memiliki potensi rawan banjir.

    Pada kejadian banjir di musim penghujan tahun 2007, kecamatan yang dilanda banjir di Kabupaten Karawang meliputi kecamatan Pakisjaya, Cilamaya Kulon, Cilamaya Wetan, Rawamerta, Karawang Timur, Karawang Barat, Tirtamulya, Tirtajaya, Jayakerta, Batujaya, Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, Rengasdengklok, Jatisari, Pakisjaya, Kutawaluya, Purwasari, Telagasari, Pedes, Tempuran, Tegalwaru, dan Cibuaya. Kecamatan dengan banjir terparah terjadi di Kecamatan Cilamaya Kulon, yakni sekitar 68 persen lahan yang dilanda banjir, Kecamatan Cilamaya Wetan (66 persen), dan Kecamatan Tempuran (55 persen). Selain curah hujan yang tinggi, kejadiannya jebolnya tanggul di beberapa titik di Sungai Citarum menyebabkan meluasnya area yang tergenang air.

    Di Kabupaten Subang pada musim penghujan menggenangi wilayah Kec. Pamanukan, Legon Kulon, dan Kecamatan Pusakanegara Kec. Blanakan, Compreng, Ciasem, Binong, dan Cipunagara. Bila hujan di wilayah DAS Sungai Cipunagara yang merupakan sungai terbesar di Kabupaten Subang terjadi terus menerus, maka banjir yang jauh lebih besar dapat mengenangi dataran rendah di Kabupaten Subang.

    Di Kabupaten Indramayu banjir terjadi akibat meluapnya Sungai Beji, Ciperawan, dan Cilet di Kec. Kandanghaur. Kecamatan Anjatan, Sukra, Patrol dan Kandanghaur. Demikian juga meluapnya Sungai Cimanuk menyebabkan banjir di Kecamatan Indramayu.

    Di Kabupaten Cirebon, banjir sering melanda wilayah Kecamatan Kapetakan, Panguragan, Gegesik, Suranenggala dan Jamblang.

    Selain pada musim hujan, banjir juga biasa terjadi di pesisir pantai utara Jawa Barat akibat gelombang pasang laut atau penduduk sering menyebutnya “Rob”. Kejadian ini umumnya terjadi antar bulan Mei – Agustus (musim kemarau). Wilayah yang sering terkena dampak rob adalah di wilayah Kabupaten Indramayu seperti di Kecamatan Juntinyuat, Losarang; Kecamatan Gunung Jati di Kabupaten Cirebon; Kecamatan Lemah Wungkuk dan Kejaksan di Kota Cirebon.

    Berikut ini disajikan secara spasial kawasan sawah rawan banjir di pesisir wilayah utara Jawa Barat hasil pengamatan Departemen Pertanian tahun 2004 (Gambar 6.4) dan Peta 8. Kawasan Rawan Banjir Pesisir Pantai Utara Jawa Barat


    A

    B

    C

    D

    E

    Gambar 6.4. Luas Lahan Rawan Banjir di Pantura Jawa Barat (A-E)

  • SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT

    Secara umum potensi sumberdaya dapat pulih pesisir Jawa Barat terdiri atas tujuh jenis, yaitu hutan mangrove, terumbu karang, budidaya tambak, budidaya laut, wisata bahari, perikanan laut dan konservasi. Di kawasan pesisir utara Jawa Barat potensi ekosistem pesisir terbesar adalah (a) ekosistem mangrove dengan luas sekitar 7.600 ha yang menyebar di Kabupaten Bekasi, Subang, Karawang, Indramayu dan Cirebon; (b) potensi budidaya tambak yang mencapai luas sekitar 30.080 ha yang tersebar di Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang dan Indramayu; (c) potensi perikanan laut juga masih dapat dikembangkan di kawasan ini terutama untuk jenis-jenis ikan tertentu.

    Panjang garis pantai propinsi Jawa Barat sepanjang 365,059 km yang terbentang dari Kabupaten Bekasi sampai Kabupaten Cirebon. Panjang pantai masing-masing Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut: Kabupaten Bekasi 37,829 km, Karawang 84,230 km, Subang 68 km, Indramayu 114 km, Cirebon 54 km dan Kota Cirebon 7 km. Pantai Jawa Barat bagian utara hampir seluruhnya didominasi oleh pantai berpasir.

    Secara ekologis, wilayah pesisir sangat kompleks dan memiliki nilai sumberdaya yang tinggi. Bila diperhatikan batasannya, wilayah pesisir pantai Jawa Barat bagian utara akan mencakup sub sistem daratan pesisir (shore land) dan perairan pesisir (coastal water). Kedua sub sistem yang berbeda tetapi saling berinteraksi melalui media aliran massa air.

    4.1 Mangrove

    Ekosistem mangrove di Kabupaten Bekasi terdapat di tiga wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Babelan, Muara Gembong dan Tarumajaya, dengan luas lahan hutan bakau terluas terdapat di Kecamatan Muara Gembong. Di beberapa lokasi hutan bakau tersebut berada pada kondisi yang kritis, baik disebabkan oleh abrasi pantai maupun adanya penebangan pohon bakau oleh masyarakat.

    Hasil peninjauan lapangan oleh PKSPL-IPB tahun 2000, dari 2.104,535 ha hutan mangrove, yang mengalami abrasi seluas 109,567 ha. Kerusakan hutan mangrove juga disebabkan oleh banyaknya penebangan hutan oleh masyarakat untuk dijadikan lahan empang dan pembuatan rumah musiman oleh nelayan khususnya sepanjang kali Muara Bendera dengan tidak memperhitungkan dampak yang akan muncul.

    Gambar 4.1. Kondisi Mangrove di Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi

    Kabupaten Bekasi memiliki garis pantai 72 kilometer, berada di tiga kecamatan di wilayah utara dan membentang dari perbatasan Jakarta sampai perbatasan Karawang. Berdasarkan pengamatan lapangan dan penelusuran data sekunder, kondisi hutan mangrove yang dulu tebal, kini rusak akibat abrasi dan pengambilan manfaat langsung oleh manusia dan kebijakan yang tidak mendukung terhadap lingkungan. Spesies yang dilindungi seperti lutung jawa (trachypitecus auratus) dan burung Kuntul (Ardeidae) kini menghilang.

    Mangrove yang dimiliki Kabupaten Bekasi tersebar di Kecamatan Muaragembong, Babelan dan Tarumajaya. Dari analisis yang dilakukan, luas wilayah hutan bakau dalam kurun waktu 59 tahun (1943-2006) telah mengalami penyusutan dan mengalami perubahan secara signifikan, dan luasnya tinggal 16,01 persen dari semula 10.000 hektare menjadi 1.580,05 hektare. Adapun fauna yang sebelumnya berasosiasi dengan hutan bakau di pesisir Kabupaten Bekasi, terdapat 32 jenis, sebagian besar burung rawa seperti kuntul. Juga hewan langka dan dilindungi seperti lutung jawa serta berbagai hewan yang mempunyai potensi ekonomi untuk dibudidayakan, antara lain udang dan kepiting bakau.

    Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan, dulu terdapat sekitar 15 ribu hektar hutan mangrove yang terdiri dari 10 ribu hektar lahan yang dimiliki PT Perhutani dan sisanya milik masyarakat. Tetapi, sekarang hutan mangrove yang didominasi jenis bakau milik Perhutani tinggal sekitar 10 hektare. Sedangkan hutan mangrove yang dimiliki rakyat juga mengalami kerusakan. Luas keseluruhan hutan yang saat ini tersisa, tercatat hanya sekitar 600 hektare.

    Banyak faktor yang menjadi penyebab kerusakan hutan mangrove, di antaranya karena faktor alam seperti banjir, juga karena penebangan pohon bakau. Masyarakat di pesisir pada saat awal kerusakan, umumnya memiliki kekhawatiran, jika mangrove tumbuh subur akan membuat masyarakat kehilangan tanah tempat tinggal atau lahan garapan. Selain itu, perilaku masyarakat di tiga wilayah pesisir mengindikasikan ada beberapa pihak yang beralasan, jika membiarkan di pesisir tumbuh hutan mangrove akan mengakibatkan pihak Perhutani mengakui lahan tersebut sehingga mereka tidak dapat lagi tinggal di sana .

    Pada tahun 2005 dan 2006, Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) meremajakan pesisir dengan menanam 729 ribu pohon jenis bakau dan api-api pada lahan 200 hektar di Kecamatan Babelan dan Tarumajaya. Pemerintah Bekasi sendiri, pada tahun yang sama juga melakukan penanaman mangrove dengan volume 75 ribu pohon pada lahan seluas 25 hektare di Kecamatan Muaragembong. Kegiatan ini mengalami kegagalan, selain dari ulah masyarakat, terjadi banjir awal Februari 2007. Tanaman yang termasuk kepada kelompok mangrove, umumnya memiliki karakter yaitu baru berakar kuat apabila telah berumur 3-5 tahun sejak penanaman sehingga ketika terjadi banjir, banyak tanaman mangrove yang tercabut lagi.

    Kabupaten Bekasi merupakan salah satu daerah yang mendapat bantuan dari program Gerhan periode 2003-2008. Secara berturut-turut pada tahun 2003 sampai 2006, daerah ini telah menerima bantuan bibit untuk rehabilitasi di Kecamatan Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya. Tetapi, mulai pada tahun 2006, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bekasi tak lagi menerima program bantuan tersebut. Sebab, saat itu mangrove yang baru ditanam pada program tahun 2005 sudah mengalami kerusakan, sehingga dipertimbangkan untuk tidak menerima bantuan dulu sampai ada pemecahan.

    Berdasarkan data Bappeda Kabupaten Bekasi, terdapat 35 kilometer panjang pesisir laut di wilayah ini yang meliputi Kecamatan Muaragembong 22 kilometer, Kecamatan Babelan tiga kilometer, dan Tarumajaya enam kilometer dengan total luas hutan mangrove 15 ribu hektare. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bekasi 2003-2013, tiga kecamatan pesisir wilayah ini diarahkan untuk hutan lindung dengan ketebalan hutan minimal 500 meter dari bibir pantai.

    Sementara, berdasarkan wawancara di lapangan, warga Desa Hurip Jaya, Babelan, Kabupaten Bekasi mengungkapkan, di jarak 500 meter desanya, dulu masih banyak ditumbuhi berbagai jenis mangrove, seperti tanaman bakau. Ketebalan hutan bakau pada 10-15 tahun lalu disebutkan antara 300-400 meter.

    Sedangkan di wilayah Kabupaten Karawang tersebar di tujuh kecamatan yang ada di Kabupaten Karawang, dengan prosentase tegakan pohon bakau terbesar (>15%) terdapat di Desa Sukakerta dan Sukajaya di Kecamatan Cilamaya, di Desa Sedari di Kecamatan Cibuaya. Jenis bakau yang ada antara lain Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Avicennia marina, Sonneratia alba, Lumnitzera racemosa, sedangkan vegetasi lainnya adalah Dolichandrone spatacea, Acrostichum aurecum, Acanthus ilicifoleus.

    Hasil analisis data LANDSAT MSS dan MOS-MSSR melalui penelitian Dimyati (1994) menunjukkan bahwa terdapat penurunan luasan mangrove dari tahun 1984 hingga 1991 akibat konversi menjadi tambak dan lahan lain.

    Gambar 4.2. Mangrove diantara Tambak Masyarakat di Pesisir Kabupaten Karawang

     

    Hutan mangrove yang terdapat di Kabupaten Subang merupakan hutan bakau binaan. Hutan mangrove di kawasan pantai Subang bagian utara berada di bawah otoritas pengelolaan Perum Perhutani BKPH Ciasem-Pamanukan. Analisis data LANDSAT-TM Multitemporal tahun 1988, 1990, 1992 dan 1995 menunjukkan bahwa luasan mangrove di kawasan ini dalam periode 1988-1992 mengalami pengurangan luasan dari 2.087,7 ha pada tahun 1988 menjadi 1.729,9 ha tahun 1990 dan 958,2 ha tahun 1992. Namun antara tahun 1992 dan 1995 terjadi penambahan luasan menjadi 3.074,3 ha. Pengurangan tersebut berhubungan dengan kegiatan konversi lahan termasuk perluasan area pertambakan, sedangkan penambahan luas pada periode akhir menunjukkan keberhasilan penggalakan program perhutanan sosial yang dilakukan melalui tambak tumpangsari. Hasil analisis data LANDSAT tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat kerapatan kanopi mangrove selama periode pengamatan mengalami pengurangan (Budiman dan Dewanti, 1998). Upaya pelaksanaan budidaya dilakukan dengan melibatkan masyarakat yang tinggal di daerah pesisir. Sebagian hutan bakau dimanfaatkan sebagai daerah wisata pantai seperti di Pondok Bali, Subang.

    Gambar 4.3. Mangrove dengan Sistem Silvofishery di Blanakan Kabupaten Subang

    Area mangrove yang terdapat di Kabupaten Indramayu relatif sedikit. Pengelolaannya dilakukan oleh Perhutani Kabupaten Indramayu. Daerah yang relatif banyak dijumpai mangrovenya adalah daerah pesisir di Kecamatan Losarang, Kandanghaur dan Sindang. Sedangkan di Kecamatan Eretan relatif sedikit, kurangnya pengelolaan oleh masyarakat menyebabkan adanya abrasi pantai.

    Ekosistem mangrove di Kabupaten Indramayu juga mengalami tekanan ekologis. Kerusakan hutan bakau (mangrove) di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu ditengarai kian meluas dari waktu ke waktu. Kondisi itu dimungkinkan akibat terjadinya alih fungsi dari lahan hutan menjadi tambak dan pemukiman, di samping terjadinya perambahan dan penebangan liar.

    Kabupaten Indramayu yang memiliki garis pantai sepanjang 114 km, kerusakan hutan mangrove yang ada diketahui relatif cukup parah. Wilayah yang mengalami kerusakan hutan mangrove paling parah diantaranya di Kecamatan Juntinyuat, Balongan, Sukra, Krangkeng dan Kecamatan Indramayu. Pemkab Indramayu melalui Kantor Perkebunan dan Kehutanan sejak tahun 2004 lalu, melakukan gerakan rehabilitasi hutan mangrove dengan melakukan penanaman sedikitnya 1,4 juta pohon. Penanaman khususnya dilakukan di wilayah-wilayah yang kondisi hutannya sudah cukup kritis.

    Upaya penanaman kembali hutan pantai itu akan terus dilakukan sehingga kondisi kerusakan yang terjadi tidak terlalu parah. Penanaman kembali 1,4 juta pohon mangrove yang telah dilakukan di sejumlah wilayah yang kerusakan hutannya cukup parah, selain dapat meningkatkan kualitas sumber daya alam dan lingkungan juga hutan mangrove yang terbentu nantinya akan dapat menjadi pagar hidup dari abrasi. Selain itu proses reboisasi hutan mangrove sebagai wilayah hutan payau sekaligus untuk memulihkan kembali habitat flora dan fauna yang hidup di kawasan tersebut.

    Penambangan pasir pesisir dan laut untuk reklamasi, serta pembukaan hutan bakau untuk kawasan pertambakan memberikan dampak lingkungan terhadap ekosistem di kawasan pesisir tersebut. Perubahan beach slope (gradien pantai) yang sebelumnya landai menjadi terjal adalah salah satu bukti kawasan pantai mengalami abrasi. Daerah breaker zone (gelombang pecah) yang tadinya jauh dari garis pantai sekarang telah berubah dekat pantai. Hal itu menunjukkan kawasan pesisir Indramayu mengalami perubahan yang destruktif. Terutama pengaruhnya di sekitar kawasan pesisir Dadap, Juntinyuat. Buangan minyak dari perahu-perahu motor, rumah tangga, dan pipa-pipa saluran minyak yang mengalami kebocoran lambat laun menyebabkan perairan Indramayu tercemar.

    Pembuatan struktur pantai seperti tanggul pantai (sea wall), groin (groyne), dan penahan gelombang merupakan salah satu pemecahan masalah bagi problem abrasi pantai Indramayu. Langkah yang dianggap maju dan berwawasan lingkungan seperti penataan kembali ekosistem pantai Indramayu merupakan pemecahan masalah yang cukup tepat dan bijak. Sebagai contoh, penghijauan wilayah pesisir dengan hutan bakau dengan membuat sabuk hijau di sekitar wilayah pertambakan, yang disertai aturan dan sanksi bagi yang tidak mengindahkan lingkungan wilayah pesisir perlu ditegakkan.

    Pemangkasan hutan mangrove di kawasan pesisir Indramayu dan sekitarnya untuk kepentingan pertambakan ikan merupakan salah satu bentuk intervensi manusia yang menimbulkan perubahan dinamika pesisir memicu terjadinya erosi pesisir di kawasan tersebut. Hasil survei menunjukkan adanya pantai di sekitar kawasan pesisir Dadap, Juntinyuat hingga Tanjung Ujungan mengalami erosi atau pantai mundur antara 1m hingga 10m per tahun.

     

    Gambar 4.4. Pembibitan Bakau di Pesisir Cemara Kabupaten Indramayu

     

    Area mangrove di Kabupaten Cirebon relatif sedikit karena adanya upaya penebangan oleh nelayan untuk pembuatan tambak. Namun sekarang ini mulai dilakukan penanaman mangrove oleh penduduk setempat di daerah pesisir seperti Kecamatan Babakan. Luas hutan mangrove (bakau) yang masih terdapat di pantai wilayah Babakan sekitar 0,25 ha (NSASD, 1999/2000).

    Gambar 4.5. Mangrove yang Tumbuh di Muara Sungai Bondet Kabupaten Cirebon

     

    4.2 Terumbu Karang

    Terumbu karang di Kabupaten Karawang terdapat di gugusan karang Sedulang yang tersebar berupa gosong-gosong karang (Patch reefs) dengan kedalaman antara 4 sampai 12 meter di perairan pesisir sekitar Cilamaya. Kondisi karang-karang tersebut sebagian besar telah mati, dikarenakan oleh kondisi lingkungan yang tidak mendukung seperti sedimentasi yang tinggi dan banyaknya aktifitas kegiatan manusia di kawasan tersebut. Jenis-jenis komunitas karang yang masih terdapat di wilayah ini antara lain adalah Porites, Acropora dan beberapa jenis karang lunak serta Sponge. Beberapa gosong karang dimanfaatkan oleh nelayan setempat untuk menangkap ikan-ikan hias laut seperti ikan Injel (Angelfish) dan Kepe-kepe (Butterfly fish). Adapula yang memanfaatkan karang sebagai hiasan akuarium yang di jual oleh masyarakat setempat.

    Ekosistem terumbu karang di Kabupaten Karawang cenderung mengalami tekanan ekologis. Pengamatan di lapangan menunjukkan cukup banyak sejumlah oknum yang kerap mencuri terumbu karang dari pantai Karawang. Akibatnya, terumbu karang yang hidup di wilayah pantai itu saat ini dalam kondisi rusak berat. Saat ditangkap petugas, mereka selalu memperlihatkan surat izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Pemprov Jabar. Namun, setelah diperiksa, surat izin tersebut ternyata sudah kedaluwarsa.

    Selain dicuri orang, kerusakan terumbu karang disebabkan juga ulah nelayan luar daerah yang menangkap ikan menggunakan bahan peledak. Akibat lebih jauh dari perilaku tersebut, ikan sulit didapat dan hasil tangkapan nelayan setempat mengalami penurunan. Di salah satu pulau kecil Kabupaten Karawang, yaitu Pulau Biawak terumbu karang yang ada sudah hampir hilang. Terumbu karang Pulau Biawak sudah rusak parah akibat pengambilan untuk bahan bangunan dan illegal fishing dengan menggunakan bahan peledak. Padahal taman laut atau terumbu karang di Pulau Biawak mempunyai beragam jenis terumbu karang yang unik.

    Terumbu karang teridentifikasi di pantai utara daerah Majakerta dan pantai di Kecamatan Indramayu serta pulau-pulau yang terdapat di sebelah utara Kota Indramayu seperti Pulau Rakit, P. Gosong, P. Rakit Utara dan Cantikian. Luas terumbu karang di pulau-pulau tersebut sekitar 500 ha. Namun demikian adanya usaha pengambilan karang oleh penduduk setempat sebagai sumber kapur sehingga areal karang tersebut semakin menyempit.

    Terumbu karang di Kabupaten Subang terdapat di daerah Brobos. Upaya pengadaan terumbu karang buatan telah dilakukan Dinas Perikanan sebanyak 3 unit Terumbu Karang Buatan (TKB) ban mobil.

    4.3. Rumput Laut

    Rumput laut di wilayah Kabupaten Karawang hanya terdapat di gugusan karang Sedulang dengan jumlah yang sangat sedikit. Di perairan Kabupaten Karawang belum ada usaha pembudidayaan rumput laut, hal ini dikarenakan kondisi perairannya yang tidak memungkinkan untuk melakukan budidaya.

    Secara spasial sebaran ekosistem pesisir di pantai utara Jawa Barat dapat dilihat pada Peta 3 Sebaran Ekosistem Pesisir Pantai Utara Jawa Barat

  • PARIWISATA BAHARI

    Pariwisata merupakan salah satu potensi wilayah pesisir yang dapat berkontribusi terhadap pembangunan wilayah pesisir. Potensi ini selain juga memberikan dampak ekonomi, juga memberikan dampak ekologi cukup signifikan terhadap perbaikan dan sanitasi lingkungan sekitar. Melalui program-program pengembangan pariwisata untuk keindahan panorama pantai atau pengembangan hutan mangrove lestari merupakan salah satu potensi wisata yang bersinergi dengan pengembangan konservasi sumberdaya pesisir dan laut. Sehingga tidaklah mengherankan bilamana pengembangan pariwisata bahari merupakan salah satu pemanfaatan potensi sumberdaya yang tepat untuk dilakukan di wilayah pesisir dan laut Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan hasil analisis perhitungan Sistem Informasi Geografi (SIG/GIS) terhadap panjang garis pantai Provinsi Jawa Barat bagian utara, tercatat panjang garis pantai di wilayah ini adalah 492,66 kilometer. Garis pantai yang panjang ini, dapat memberikan gambaran betapa besar potensi wisata pantai yang dapat dikembangkan.

    Kabupaten Bekasi

    Dari sepanjang 77,88 kilometer garis pantai yang dimiliki Kabupaten Bekasi, terdapat sekitar 7,25 kilometer yang merupakan potensi pantai alami yang dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata pantai di Kabupaten Bekasi. Lokasi pantai yang berpotensi untuk dikembangkan antara lain adalah muara Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL), pantai alam Muara Gembong dan Muara Bendera di Kecamatan Muara Gembong (obyek wisata pemancingan di muara Sungai Citarum), serta Tarumajaya yang memiliki aksesibilitas yang mudah, baik melalui jalan darat maupun jalan laut dengan perahu tempel atau speed boat dari pelabuhan Tanjung Priok.

    Acara Pesta Laut yang diadakan di daerah muara Sungai Citarum setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, atau pelaksanaan pesta sakralnya yang diadakan dua tahun sekali pada bulan September dapat dijadikan salah satu daya tarik wisata. Pengembangan wilayah pesisir Kabupaten Bekasi sebagai pusat pariwisata pantai dimaksudkan juga agar penanganan yang sampai sekarang terus berlangsung dapat lebih diperhatikan atau lebih serius ditangani.

    Kabupaten Karawang

    Sektor pariwisata di Kabupaten Karawang sampai saat ini belum berperan memberikani kontribusi ekonomi regional kabupaten, karena potensi yang ada belum dimanfaatkan secara maksimal. Keterbatasan dalam pengembangan sektor pariwisata adalah pendanaan, sumberdaya manusia dan penyebaran informasi serta lokasi pantai yang bukan merupakan lintasan wisata. Namun demikian, tidak berarti bahwa Kabupaten Karawang tidak memiliki potensi wisata yang bisa dijual baik untuk wisatawan lokal maupun asing.

    Garis pantai Kabupaten Karawang sepanjang 94,01 kilometer, memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan. Beberapa potensi wisata yang dapat dikembangkan antara lain :

    1. Wisata Pantai Tanjung Pakis di Kecamatan Pakisjaya dengan potensi atraksi lumba-lumba, hutan pinus pada kawasan pantai, dan tempat pelelangan ikan (TPI)

    2. Wisata Pantai Cibuaya, yang menyajikan makanan laut

    3. Wisata Alam Hutan Bakau-Cibuaya, dikelilingi oleh sungai sehingga dapat digunakan sarana angkutan air.

    4. Wisata Pantai Ciparage

    Potensi pariwisata di pesisir Kabupaten Karawang secara sosial dan ekonomis belum dimanfaatkan dan dikelola secara optimal. Sebagai contoh obyek wisata pantai pesisir Ciparage banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik dari Karawang terutama hanya pada hari-hari libur. Obyek wisata lainnya di pantai tersebut adalah Pesta Laut yang diadakan setiap dua tahun sekali yaitu pada bulan Nopember. Berdasarkan informasi dari Dinas Perikanan Kabupaten Karawang, potensi pariwisata pantai yang dapat dikembangkan yaitu disepanjang pantai Pasir Putih di Kecamatan Cilamaya, Pariwisata Pantai Terpadu dengan Wisata Agroseafood Fisheries di muara Sungai Cibuntu, Kecamatan Pedes dan di sekitar Pantai Timbuljaya di Kecamatan Pakisjaya dan diduga di Kecamatan Batujaya terdapat "situs" yang sekarang masih dalam taraf penelitian oleh Badan Arkeologi Nasional.

    Kabupaten Indramayu

    Kabupaten Indramayu memiliki beberapa potensi wisata bahari yang tersebar disepanjang 161,72 kilometer garis pantai ada yang di wilayahnya. Potensi lokasi wisata yang telah banyak dikenal ada 3 (tiga), yaitu (i) Pantai Tirtamaya, (ii) Koloni Kera dan (iii) Pulau Biawak.

    Luas lokasi wisata Pantai Tirtamaya adalah 1,8 hektar dengan fasilitas area bermain anak-anak, tempat berteduh, restoran, area parkir serta wisata perahu. Pengelolaan tempat ini dilayani oleh 8 orang tenaga kerja yang terdiri penjual tiket tanda masuk dan tenaga administrasi lainnya. Pantai Tirtamaya merupakan salah satu daerah wisata yang terancam punah eksistensinya disebabkan oleh semakin terkikisnya daerah wisata pantai di kawasan ini oleh gelombang. Kondisi saat ini menunjukkan sudah pada tahap mengkhawatirkan.

    Gambar 7.1. Pintu Masuk Wisata Pantai Tirtamaya Kabupaten Indramayu

    Obyek wisata koloni Kera seluas 1,5 hektar dilayani oleh 3 orang petugas pariwisata serta obyek Pulau Biawak seluas kurang lebih 200 hektar dan masih belum dikelola secara khusus sehingga data pengunjung juga belum tercatat.

    Objek wisata lainnya yang terdapat di wilayah pesisir Indramayu adalah pantai Kandanghaur. Di wilayah ini berdiri beberapa warung-warung dan kedai makanan dan minuman siap saji, seperti ikan bakar, bakso, es kelapa, dan sebagainya. Selain itu, di daerah ini juga dapat menikmati pemandangan pantai, kendati relatif sederhana. Kawasan ini lebih merupakan kawasan wisata persinggahan, karena sebagian besar pengunjung merupakan masyarakat yang kebetulan berhenti untuk sekedar melepas lelah sambil makan dan minum serta menikmati pemandangan pantai.

    Daerah pengembangan pariwisata lainnya adalah Patrol, Pantai Karangsong, Pantai Cangkring dan Pantai Glayem yang belum dikelola secara baik dan perlu penataan lebih baik mengingat lokasinya yang berdekatan dengan dermaga perahu nelayan. Kegiatan wisata lainnya yang sudah merupakan tradisi di setiap daerah nelayan adalah adanya pesta laut yang diadakan setiap tahun.

    Kabupaten Subang

    Kabupaten Subang mempunyai garis pantai sepanjang 68,69 kilometer. Secara kasat mata, beberapa lokasi di sepanjang pantai Kabupaten Subang berpotensi untuk pengembangan wisata bahari.

    Upaya pemanfaatan daerah pesisir sebagai area wisata pantai di Kabupaten Subang yang dikelola oleh pemerintah daerah adalah Pantai Pondok Bali di pesisir Kecamatan Pamanukan. Area wisata di daerah pesisir tersebut mempunyai karakteristik pantai yang landai, pasir bewarna coklat, dan area hutan lindung mangrove. Daerah ini juga sering dipergunakan sebagai area pemancingan ikan laut sehingga cocok untuk dikembangkan. Pemancing yang berdatangan berasal dari Kota Pamanukan serta dari luar kota seperti Bandung dan Karawang. Di Kecamatan Blanakan juga terdapat areal khusus penangkaran buaya yang bisa dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata.

    Pengembangan objek wisata di kawasan pantai utara Subang meliputi 3 (tiga) obyek utama, yaitu (i) kawasan wisata Pondok Bali dan Gagara Menyan, (ii) kawasan wisata Blanakan dan (iii) kawasan wisata Pantai Patimban. Permasalahan utama yang terjadi pada obyek-obyek wisata pesisir (khususnya Pondok Bali) adalah masalah abrasi dan penebangan hutan mangrove.

     

      A B

     

      C D

    Gambar 7.2. Potensi Wisata di Kabupaten Subang: (A) Wisata Mangrove Blanakan; (B) Penangkaran Buaya Blanakan; (C) Sarana Pengawas Pantai Pondok Bali; dan (D) Pintu Masuk Pariwisata Pondok Bali

    Kabupaten Cirebon

    Kabupaten Cirebon mempunyai panjang garis pantai terpanjang ketiga setelah Kabupaten Indramayu dan Karawang. Tercatat 80,42 kilometer garis pantai yang terdapat di wilayah administrasi kabupaten ini. Beberapa lokasi memiliki potensi pengembangan wisata bahari, disamping daerah yang selama ini telah digunakan sebagai lokasi rekreasi. Lokasi rekreasi pantai di Kabupaten Cirebon terdapat di wilayah Cirebon bagian utara. Umumnya pesisir tersebut dipergunakan sebagai area rekreasi oleh wisatawan domestik namun pengelolaannya belum dilakukan dengan baik. Daerah yang akan dikembangkan salah satunya adalah Perkampungan Nelayan Gebang Mekar yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Gebang.

    Kota Cirebon

    Panjang garis pantai Kota Cirebon tercatat 9,94 kilometer. Daerah pariwisata pantai belum dikelola secara khusus dan hanya dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi murah oleh penduduk disekitarnya. Salah satu wisata pantai yang ada di Kota Cirebon adalah Taman Ade Irma Suryani Nasution. Di dalamnya dilengkapi dengan arena bermain anak-anak, beberapa binatang langka, panggung hiburan dan pantai.

    Taman ini berdampingan dengan PT. Pelabuhan II Cirebon. Walaupun penataan Taman Ade Irma lebih baik dibandingkan dengan Pantai Tirtamaya di Indramayu, namun pengunjung hanya ramai pada hari-hari libur dan hari Minggu. Tiket tanda masuk tempat ini sebesar Rp 3.500 per orang. Pada hari-hari libur banyak dijumpai pengunjung yang rata-rata berusia remaja sedangkan pada hari-hari biasa sangat jarang didatangi pengunjung.

    Gambar 7.3. Wisata Pantai Taman Ade Irma Suryani di Kota Cirebon

    Secara spasial, objek wisata dan fasilitasnya di pesisir utara Jawa Barat dapat dilihat pada Peta 9 Objek Wisata dan Fasilitas Pariwisata Pesisir Pantai Utara Jawa Barat.

  • Karakteristik Fisik, Sosial dan Ekonomi Wilayah Pulau-pulau Kecil

    Pulau adalah massa daratan yang seluruhnya dikelilingi air. Ukuran luas pulau sangat bervariasi, mulai dari pulau-pulau karang yang bisa tenggelam bila air laut pasang hingga yang luasnya mencapai jutaan kilometer persegi. Meskipun tidak dibatasi secara pasti, para ahli kebumian telah sepakat bahwa yang disebut pulau adalah daratan yang lebih kecil dari benua terkecil, yakni Benua Australia yang membentang seluas 7.682.300 km persegi (Husni, 1998). Beberapa pulau kecil yang mengelompok bersama disebut dengan  kepulauan, misalnya Kepulauan Seribu, Kepulauan Riau, Kepulauan Galapagos, dan Kepulauan Aegean.

    Pulau kecil didefinisikan sebagai pulau dengan luas <10.000 km2 dan mempunyai penduduk 500.000 orang atau kurang (Bell et all, 1990).  Pulau kecil merupakan habitat yang terisolasi dengan habitat lain, keterisolasian suatu pulau akan menambah keanekaragaman organisme yang hidup di pulau tersebut, hal ini juga membentuk kehidupan yang unik di pulau tersebut.  Selain itu pulau kecil juga mempunyai lingkungan yang khusus dengan proporsi spesies endemik yang tinggi bila dibandingkan dengan pulau kontinen, pulau kecil juga mempunyai daerah tangkapan air (catchment) yang relatif kecil  sehingga kebanyakan air dan sedimen hilang kedalam air.  Dari segi budaya, masyarakat pulau kecil mempunyai budaya yang berbeda dengan pulau kontinen dan daratan.

    1. Karakteristik Fisik Pulau-pulau Kecil

    Terdapat tiga kriteria yang dapat digunakan dalam membentuk batasan suatu pulau kecil, yaitu:  batasan fisik (luas pulau), batasan ekologis (proporsi spesies endemik dan terisolasi), dan keunikan budaya.  Selain ketiga kriteria tersebut, dapat pula ditambahkan kriteria tambahan yakni kemandirian penduduknya mendatangkan kebutuhan pokoknya berasal dari pulau lain atau pulau induknya, maka pulau tersebut dapat digolongkan pulau kecil.

    Jenis-jenis pulau dapat dibedakan berdasarkan proses terbentuknya pulau. Pulau-pulau terbentuk melalui berbagai cara, diantaranya adalah karena aktifitas gunung berapi serta pergeseran kerak bumi. Para ahli kebumian telah membagi pulau-pulau menjadi empat jenis, yaitu pulau kontinental, pulau vulkanik, pulau koral dan pulau barier (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990). Pulau kontinental adalah pulau yang letaknya menjadi satu rangkaian dan berhubungan dengan benua. Melalui proses evolusi, beberapa pulau ini terisolasi dari daratan utama akibat naiknya muka air laut. Misalnya adalah Pulau Suamatera, yang sebelum Jaman Es menjadi satu dengan semenanjung Malaya dan daratan Asia. Ketika sebagian besar es di kutub mencair, air laut yang naik menciptakan Selat Malaka yang memisahkan Sumatera dari daratan benua Asia. Selanjutnya terdapat juga pulau kontinental yang memisahkan diri dari daratan utama akibat bergesernya kerak bumi yang terus menerus. Misalnya Pulau Irian (Papua), beberapa juta tahun lalu adalah merupakan bagian dari Australia. Selain itu ada  pula kontinental yang terbentuk karena tererosinya daratan yang merupakan penghubung ke daratan utama.

    Pulau vulkanik terdiri atas lava yang menumpuk dan menggunung ke atas dasar samudera oleh erupsi-erupsi gunung api lautan. Beberapa pulau vulkanik seperti Kepulauan Aleutioan dan pulau-pulau vulkanik di Jepang membentuk busur kepulauan. Busur kepulauan biasanya sempit, membentuk rantai melengkung dari kepulauan vulkanik yang terbentuk disepanjang perbatasan palung dalam di dasar samudera. Beberapa busur kepulauan itu masih memiliki aktivitas vulkanik tinggi.

    Pulau koral umumnya memiliki ukuran yang relatif kecil dan tak menjulang tinggi. Pulau-pulaunya datar dan terdiri atas bahan-bahan terumbu karang. Batu karang yang berasal dari koral terbentuk dari batu kapur yang terkomposisi atas binatang dan tumbuh-tumbuhan laut kecil-kecil serta karang-karang mati. Terumbu karang terbentuk dan tumbuh dalam air laut yang dangkal dan hangat. Beberapa pulau koral berkembang dari terumbu karang yang tertimbun dan menumpuk di sekeliling pulau-pulau vulkanik. Beberapa pulau vulkanik tenggelam karena gerakan lempeng-lempeng samudera. Yang lain terendam di bawah air mengikuti naiknya muka air laut. Ketika pulau-pulau itu tenggelam atau ketika muka air laut naik, terumbu karang tumbuh bertambah tinggi dan membentuk atol, yakni susunan batu karang melingkar yang mengelilingi massa air di tengahnya yang disebut laguna (lagoon). Gelombang laut dan angin mengikis sebagian batu karang dan menyebabkannya menjadi rata, dan membentuk pulau berpasir.

    Sedangkan pulau penghalang atau barier tersusun atas endapan pasir, lumpur dan kerikil yang menumpuk memanjang di perairan pantai. Aliran arus laut dan sungai mengikis endapan itu dan membawanya menuju perairan dangkal di tepi pantai. Gelombang laut dan angin menimbun pasir menjadi punggungan dan tumpukan pasir yang membentuk pulau penghalang. Proses oseanografi yang terjadi menyebabkan perubahan dinamis pada pulau-pulau kecil seperti contoh pada Pulau Nyamuk Besar di Teluk Jakarta yang disajikan dalam Gambar 1.

    Untuk pulau-pulau kecil dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai macam kriteria, antara lain genesa pulau, bentuk pulau, litologi pembentuk pulau atau umur dan tipe batuan dasarnya. Hehanusa (1992) telah membuat klasifikasi pulau kecil di Indonesia berdasarkan morfologi dan genesa pulau menjadi 8 jenis, yang dibagi dalam dua kelompok yaitu : pertama pulau berbukit yang dapat dibagi menjadi  4 kelas yaitu pulau vulkanik, pulau tektonik, pulau teras terangkat, pulau petabah (monandock) dan pulau gabungan yang terbentuk dari gabungan dua atau lebih dari jenis pulau di atas;  kedua pulau berdaratan datar/rata yang dibagi menjadi pulau aluvium, pulau karang/koral dan pulau atol. Dengan demikian karakteristik pulau-pulau kecil umumnya sangat tergantung pada proses pembentukan dan posisi geografisnya.

    Oleh karena itu, maka potensi sumberdaya yang terdapat di pulau kecil akan tergantung pada proses terbentuknya pulau serta posisi atau letak pulau tersebut, sehingga secara geologis pulau-pulau tersebut memiliki formasi struktur yang berbeda, dan dalam proses selanjutnya  pulau-pulau tersebut juga akan memiliki kondisi spesifik dan spesies endemik serta keanekaragaman yang  tipikal. Sebagai contoh karakteristik fisik suatu pulau kecil dapat dilihat pada gambar potongan melintang Pulau Putri Besar di Kepulauan Seribu seperti pada Gambar Lampiran 1 dan kondisi unik yang terdapat di Pulau Rambut Kepulaun Seribu pada Gambar 2.

     

    2. Karakteristik Sosial dan Ekonomi Pulau-pulau Kecil

    Karaktersitik sosial dan ekonomi dari pulau-pulau kecil akan lebih mudah difahami melalui fungsi-fungsinya secara sosial maupun ekonomi. Terdapat sekitar 931 buah pulau yang berpenghuni dan sekitar 16.577 buah pulau yang tidak berpenghuni di seluruh Nusantara (Edyanto, 1998). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pulau-pulau kecil di Nusantara merupakan pulau yang tidak berpenghuni. Namun demikian tidak berarti pulau-pulau tersebut tidak memiliki fungsi sosial dan ekonomi bagi masyarakat pesisir. Pada dasarnya pulau-pulau yang menempati ruang atau posisi tertentu, walaupun tidak berpenghuni, namun memiliki nilai yang strategis secara sosial maupun ekonomi, misalnya pulau-pulau yang berada di jalur pelayaran ataupun pulau-pulau yang memiliki kandungan sumberdaya alam yang berharga. Terutama sekali pulau-pulau yang berdekatan dengan pusat perkembangan ekonomi baik dalam skala lokal, regional, nasional maupun internasional.

    Sementara itu bagi pulau-pulau yang berpenghuni, jelas akan memiliki karakteristik sosial budaya tersendiri, sebagai konsekuensi dari proses evolusi budaya yang terjadi dalam suatu proses rangkaian interaksi manusia dan lingkungannya. Interaksi manusia dengan lingkungan terjadi dalam suatu bentuk pola-pola tingkah laku yang terlembagakan, kemudian menghasilkan sistem adaptasi yang terpola dan merupakan bagian dari sistem yang lebih luas, yakni kebudayaan. Selanjutnya kebudayaan yang memiliki keterkaitan secara langsung dengan adaptasi manusia terhadap lingkungan adalah aspek-aspek kebudayaan yang berupa sistem teknologi mata pencaharian dan pola pemukiman, yang keduanya disebut juga sebagai cultural core. Oleh karenanya karakteristik inipun menjadi spesifik pada tempat atau lokasi yang berbeda. Sehingga penanganan sistem sosial bagi pengembangan pulau-pulau kecil pun akan memiliki strategi yang berbeda pula pada setiap tempat.

    Dengan demikian keberadaan pulau-pulau kecil sebagai suatu ruang wilayah, bagi masyarakat mempunyai fungsi sosial tertentu, terutama berkaitan dengan penguasaan sumberdaya yang bersifat terbuka (open acces) bagi pemenuhan kebutuhan hidup suatu kelompok masyarakat atau suatu sistem sosial. Disamping juga terdapat pulau-pulau yang telah menjadi milik suatu komunitas tertentu (common acces) maupun telah menjadi milik suatu private. Fungsi-fungsi tersebut dapat berupa fungsi ekonomi secara langsung maupun tidak langsung, yang sudah menjadi tradisi atau kebiasaan bagi masyarakat. Fungsi-fungsi langsung dapat berupa pemanfaatan berbagai sumberdaya pada ekosistem pulau, sedangkan fungsi tidak langsung dapat berupa pemanfaatan pulau-pulau sebagai tempat perlindungan atau persinggahan sementara dari kondisi cuaca yang tidak bersahabat, bagi para nelayan penangkap ikan tradisional maupun bagi kelompok etnis atau suku-suku tertentu yang memiliki kehidupan di laut seperti suku laut di perairan Kepulauan Riau.

    Gambaran di atas menunjukkan bahwa kenyataan alam dan kehidupan mengajarkan adanya berbagai bentuk keteraturan yang dapat dipahami dan dapat dijadikan dasar untuk merencanakan pengembangan suatu wilayah. Keteraturan-keteratuan inilah yang umumnya disebut sebagai hukum atau konsep yang menjadi pemandu pembangunan wilayah. Hukum-hukum atau konsep-konsep tersebut dapat berwujud pola keteraturan fisik dan lingkungan maupun pola keteraturan sosial ekonomi masyarakat yang lahir akibat interaksi antara masyarakat dengan sumberdaya alam dan lingkungan. Hukum keteraturan ini teramati secara temporal maupun spasial. Hukum keteraturan inilah yang menjadi penentu pola sebaran dan konsentrasi berbagai aktivitas masyarakat pesisir secara spasial.